Menulis Itu Asyik…!

23 June 2009

Hari Buku Sedunia, 31 Mei. Belasan kegiatan digelar oleh panitia World Book Day (WBD) 2009 di Jakarta. Tempo Institute, sayap grup Tempo yang bergiat dalam mendorong kepenulisan, terlibat dalam kegiatan ini.

Beberapa personel Tempo terjun menjadi pembicara dalam serial tur WBD Goes to School. Qaris Tajudin, redaktur U Magazine, mengunjungi SMA 38, Jakarta, dua pekan lalu. “Ayo, adik-adik, menulis itu asyik,” kata Qaris setelah memutar film Dead Poet Society di hadapan pelajar SMA 38.

Lalu ada Yosep Suprayogi, redaktur rubrik lingkungan di Majalah Tempo, diterjunkan ke Subang, Jawa Barat. Dia mengunjungi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Subang (STIESA). Yosep menebarkan virus pentingnya menulis. “Ini zaman teknologi. Siapa pun bisa jadi wartawan, termasuk Anda,” kata Yosep.

Ada lagi satu kegiatan yang tak kalah seru. Okta Wiguna, redaktur buku Koran Tempo, dan Mardiyah Chamim, Tempo Institute, kebagian menjadi instruktur di workshop menulis yang digelar di Museum Bank Mandiri, Jakarta. Peserta lokakarya ini adalah 12 pelajar sekolah menengah pertama yang bergabung dalam kegiatan Pramuka. “Kami diseleksi dari 200 peserta yang ikut kemping menelusuri museum,” kata Tika, salah satu peserta.

Luar biasa. Peserta begitu bersemangat menulis. Mereka antusias mengasah keterampilan menasah ide, memilih angle, dan juga membuat kerangka tulisan.

Lokakarya dua hari itu diakhiri dengan praktek menulis. Yang mengejutkan, dua peserta tampil dengan kisah fiksi yang tinggal ‘bungkus’, tak perlu penyuntingan serius. Keduanya adalah Eliana Ricara dan Nathania Purnomo, siswa kelas 2 SMP Samaria, Jakarta.

Tulisan mereka ditampilkan Ruang Baca, Koran Tempo, 31 Mei 2009.

This entry was filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

3 Responses to “Menulis Itu Asyik…!”

  1. andy-semarang

    salam pena..ni gw cuman mw kasi saran dikit..kalu bisa koran tempo kasih dong satu dua kolom buat khusus mahasiswa. biar kreativitas dan sikap kritis kita terwadahi. mungkin seperti yang dilakukan koran sindo, kompas jateng dan suara merdeka misalnya. masalh honor sih gak peduli yang penting kita ada temapt ngungkapin pendapat kita soalnya kalau bersaing di kolom ‘pendapat’, kualitas kita asih kalah ma bapak-bapak profesor itu. terimakasih

  2. Muhammad Hafiz

    Anak Indonesia sebetulnya banyak potensi, namun karena akses saja yang kurang menguntungkang. Acara spti di atas seharusnya mnjadi contoh bagi media massa atau lembaga lain sebagai manifestasi pertanggungjawaban terhadap masyarakat.
    terima kasih

  3. dalhar ahmad

    emang kok. ni aku juga lagi belajar dari disi yang dipakai tempo untuk menulis berita

Leave a Reply