Tumbuh, Menjadi Indonesia

24 August 2009

fgd1

Mari dengarkan curhat Cholil Mahmud, personil grup band indie Efek Rumah Kaca. Pemuda 33 tahun ini sedang risau atas kondisi negeri ini. “Indonesia saat ini amat menyebalkan. Korupsi di mana-mana. Begitu banyak kerusakan terjadi, entah dari mana bisa dibenahi,” katanya.

Cholil tak mau sekadar berpangku tangan. Bersama teman band Efek Rumah Kaca, dia menciptakan lagu bertajuk Menjadi Indonesia –terilhami judul buku yang ditulis Parakitri Simbolon. “Lagu ini bagian dari kegelisahan kami tentang kondisi Indonesia,” kata Cholil.

“Lekas, bangun dari tidur berkepanjangan. Menyatakan mimpimu. Cuci muka biar terlihat segar. Merapikan wajahmu. Masih ada cara menjadi besar…”

Seruan Cholil adalah seruan anak muda. Seruan ini pula yang memenuhi udara di tengah diskusi bertema “Obrolan Merdeka – Menjadi Indonesia”, di Gelanggang Remaja Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2009 lalu. Acara ini adalah bagian dari serangkaian kegiatan “Kompetisi Esai untuk Mahasiswa 2009″ yang diselenggarakan Tempo Institute bersama Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

fgd2

Pagi itu, diiringi matahari yang bergerak meninggi, 30-an anak muda berbincang tentang Indonesia. Mereka datang dari berbagai latar belakang, antara lain pemusik, pembuat film indie, penulis, aktivis pers mahasiswa, peminat sejarah, pegiat di bidang lingkungan, pemiloik distro, dan pegiat komunitas difabel.

Obrolan ini memang bertujuan mengumpulkan mosaik pemikiran anak muda tentang Indonesia. “Saya senang menyaksikan anak muda antusias membicarakan Indonesia, sebab merekalah sesungguhnya pemilik dan penentu masa depan bangsa ini,” kata Ulung Rusman, pegiat Perhimpunan INTI.

fgd3

Ditemani fasilitator NM Ruliadi, Obrolan Merdeka berlangsung hidup. Acara dibuka dengan sesi berandai-andai menjadi menteri. Ruliadi meminta peserta membayangkan diri mereka sebagai menteri dalam kabinet yang akan dibentuk. “Jika Anda jadi menteri, maka menteri apakah itu dan apa program prioritas Anda?”

Kendati berlangsung dalam suasana penuh canda, para peserta menanggapi sesi berandai-andai ini dengan serius. Separo lebih peserta, 17 orang, mengandaikan diri menjadi Menteri Pendidikan Nasional. “Persoalan bangsa ini banyak bermuara pada sistem pendidikan yang buruk. Mestinya pendidikan bisa dijangkau seluruh rakyat, murah, dan bagus,” kata Armely Meviana, aktivis komunitas GreenLifestyle.

fgd4

Lalu, tibalah saat para peserta berdiskusi tentang permasalahan utama yang terjadi di negeri ini. Peserta yang dibagi dalam empat kelompok membahas potongan-potongan berita surat kabar yang disediakan panitia. Hasil identifikasi masalah ini disampaikan dengan cara teatrikal. “Ini tantangan menerjemahkan persoalan rumit dalam bahasa yang mudah,” kata Ruliadi.

Hebatnya, drama yang dirancang dalam tempo singkat itu bisa tampil memikat. Ada kelompok yang  menyajikan dialog dengan peserta yang berperan sebagai tuhan. Kelompok lainnya menggunakan media televisi, menyuguhkan peran presenter yang mengulas aneka peristiwa. Ada juga kelompok yang menyoroti berbagai bencana yang sumbernya tak lain adalah perilaku manusia. “Hebat, nggak nyangka kita bisa kompak,” kata seorang peserta, “Padahal baru kenal beberapa jam lalu.”

Obrolan Merdeka ini ditutup dengan presentasi mimpi dan rencana masa depan. “Saya ingin punya sekolah sepak bola. Gratis untuk anak jalanan,” kata Yuda, pemilik distro di kawasan Tebet, Jakarta. “Saya ingin berkembang bersama sejuta usaha kecil menengah,” kata Dicky, pengusaha muda yang merintis website khusus pengembangan bisnis UKM. Lalu, ada Rangga, mahasiswa Universitas Parahyangan, Bandung, yang ingin mendokumentasikan kekayaan musik tradisional nusantara. “Saya ingin kita punya direktori musik tradisional. Biar negara lain tak gampang main klaim,” kata Rangga.

Lewat pukul 1 siang. Obrolan Merdeka pun berakhir. Wajah-wajah muda ini berleleran keringat.  Anehnya, mereka tak juga beranjak dari lokasi. Mereka masih asyik mengobrol, bertukar pengalaman dan saling menggali mimpi masa depan. “Kepanasan, sih,” kata Ara, peserta yang anggota Sahabat Walhi, “tapi tetep semangat Menjadi Indonesia.”

(MCH, AB)

This entry was filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

Leave a Reply