News Feature
Oleh : M. Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo.Disampaikan pada “Pelatihan Menulis Feature”, Tempo Institute, di Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 8 Agustus 2009.
News Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.
Penulisan feature tidaklah mudah. Untuk menulis straight news, kita tak perlu bersusah-susah menyusunnya. Urutannya jelas akan dimulai dari yang paling baru atau yang paling penting. Makin ke bawah, makin tidak penting. Unsurnya juga hanya 5 W + 1 H. Lead (pembuka berita) juga biasanya dimulai dari orang atau belakangan mulai banyak media yang menulis dengan lead kesimpulan.
Tapi, news feature harus lebih dari itu. Unsur 5 W + 1 H tetap harus ada karena itu unsur paling penting dari sebuh berita. Yang membedakannya adalah yang disebut unsur story behind the news dan atau background story. Kisah-kisah latar belakang, cerita-cerita tentang pertemuan-pertemuan di balik sebuah berita, misalnya, sangat penting untuk digali. (Kisah Rani dalam pembunuhan Nasrudin, misalnya. Setelah digali lebih mendalam, ada banyak masalah besar seperti korupsi di Rajawali Nusantara Indonesia. Juga kaitannya dengan sebuah kelompok pembunuh bayaran, dst.)
Ada beberapa unsur News Feature yang akan menentukan keberhasilan penulisannya, yakni :
- angle atau sudut pandang yang tajam dan ketat,
- struktur dan alur berkisah (plot) yang lancar,
- konteks,
- fokus.
Angle yang ketat merupakan prasyarat pertama untuk bisa menulis news feature yang bagus. Ini seperti kita memotret suatu peristiwa melalui sebuah kamera: apakah dari depan, dari samping, atau kita fokus saja pada sesuatu yang menurut kita paling menarik (sekumpulan orang, atau kejadian: orang mengantuk dalam sidang DPR, kerumunan di sekitar pedagang pada saat kampanye, dst), atau kita fokus pada orang-orang paling penting dalam sebuah acara.
Sama halnya dalam penulisan news feature, angle juga sangat penting. Angle yang tajam akan menentukan keberhasilan penulisan news feature. Angle yang tajam akan membuat kita fokus dalam mencari nara sumber, menggali bahan, dan kemudian mendalaminya. Ingat, kita tidak berburu di hutan tanpa tahu hewan apa yang ada di hutan itu.
Ciri lain yang juga sangat penting adalah cara menuliskannya. News Feature menuntut kita menulis dalam bentuk bertutur. Dalam penulisan feature, penting untuk menentukan siapa saja “tokoh” dalam berita itu, bagaimana perjalanan kisahnya, kapan cerita itu dimulai, dan bagaimana akhirnya. Juga harus diperhatikan klimaksnya. Selain itu, bahasa yang digunakan harus menarik dan tangkas (manfaatkan sebanyak mungkin peribahasa, joke, anekdot, gaya bahasa, dst).
Karena itu, dalam news feature, struktur dan alur penulisan menjadi sesuatu yang sangat penting. Apakah kita akan menuliskannya secara kronologis, atau kilas balik. Kronologis artinya peristiwa diurutkan dari awal hingga akhir. Ini alur yang paling mudah dibuat, tapi memiliki kelemahan: tidak banyak ada kejutan, kalau bahasanya tidak tangkas menjadi tidak menarik. Sebaliknya kilas balik dimulai dari yang terkini, baru mundur ke belakang.
Selain itu, bisa juga kita membuat alur yang sifatnya konvergen atau divergen. Dari banyak peristiwa yang seolah-olah terpisah, kemudian disatukan di ujung sebagai sebuah kisah yang punya pertalian sama.
Sebaliknya, strukur divergen akan membuat cerita dari satu peristiwa kemudian menyebar menjadi berbagai kisah. Intinya adalah plot. Gaya ini sebetulnya diadopsi dari gaya penulisan fiksi. (Misalnya: kita menulis soal pengendalian dampak tembakau. Kita menuliskan kasus-kasus di Jakarta, lalu Bogor, dan Palembang. Lalu, di ujung, kita baru bicara tentang masih susahnya DPR meloloskan RUU Pengendalian Dampak Tembakau)
Konteks juga penting. Dengan konteks kita memberikan pemahaman kepada para pembaca alasan kita menulis suatu cerita. Apalagi, jika cerita itu tidak ada newspeg-nya (cantelan berita). Di dalamnya ada soal apa pentingnya cerita itu buat pembaca (mengapa kita memilih cerita tentang kecelakaan kereta di Bogor sebagai headline dan bukan soal mbah Surip yang belum menerima royalti) atau mengapa mereka harus membaca tulisan itu.
Konteks bentuknya bisa bermacam-macam: alasan waktu (kita menulis kisah seorang pejuang untuk memperingati hari pahlawan atau hari kemerdekaan dll.), alasan magnitude (korban rokok sudah begitu banyak: berapa tingkat kematian akibat paru-paru atau kanker, dst), alasan kekinian atau newspeg (tentang kisruh penentuan kursi di DPR, misalnya), atau bisa juga karena alasan kepentingan publik (soal korupsi, pandemi flu babi, dst).
Yang terakhir tentu saja soal fokus. Inilah salah satu cara kita membuat pagar agar tulisan tidak lari ke kanan atau ke kiri (zig-zag), juga supaya tidak ngelantur ke mana-mana. Setiap tulisan feature harus fokus pada masalah dan angle yang sudah ditetapkan. Jika ada bahan menarik yang dibuang sayang, buatlah boks (tulisan pendukung).
Bahan ini sekadar alat untuk membantu Anda menulis. Sesungguhnyalah, yang membantu Anda liha menulis news feature adalah latihan. Semakin sering berlatih, Anda akan semakin lancar.
****

September 25th, 2009 at 5:48 pm
makasih ya. ak jadi dapat tambahan buat referensi dan petunjuk penting untuk menulis berita. Bravo Tempo! Bravo KKM MEDIA Universitas Mataram!
October 10th, 2009 at 12:41 pm
tanya pak, pemparan 5w+1H itu sistematisny gmna? mulai dr W yg mna dlu?apa krena featur jd bleh kbolak/i
March 1st, 2010 at 9:38 am
mohon izin untuk mengutip makalah ini bos
March 4th, 2010 at 10:40 pm
Silakan mengutip dan menyebarluaskan. Terimakasih, Tim TI
March 31st, 2010 at 9:06 pm
Mohon izin sy copy artikelnya untuk keperluan perkuliahan dan pencerahan, trims…..
April 1st, 2010 at 4:10 pm
Silakan disebarluaskan, Pak Asnawi. Semoga bermanfaat.
June 1st, 2010 at 1:56 pm
mas,sya seorg mhsiswa yg dpt tgas dlm mta kuliah jurnlstik untk mencari biography seorg jurnlst ataw wrtawan,mas bs jd object’y ataw tidak?trima kasih.