Surat dari Proklamasi….

16 October 2009

 Seribu lebih naskah, persisnya 1.048, sama sekali bukan angka yang sedikit. Seribu lebih naskah itu datang dari seluruh penjuru negeri.  Cemas, marah, renungan, gagasan, rasa cinta, juga harapan akan masa depan Indonesia tertumpah dalam seribu lebih naskah esai itu.  

 Bagi kami, panitia Kompetisi Esai Mahasiswa 2009 “Menjadi Indonesia”, seribu lebih naskah ini adalah sebuah kehormatan. Kepada seluruh peserta, juga para mentor, para juri, juga barisan panitia, kami ucapkan terimakasih telah ikut terlibat dalam kerja besar mengumpulkan mozaik pemikiran anak muda tentang persoalan kebangsaan ini.  

 Awalnya, kami menduga peserta tak lebih dari 300-an. “Minat baca-tulis mahasiswa zaman sekarang, kan, rendah,” begitu kata seorang kawan. Ada lagi yang berkomentar, “Mestinya bikin kompetisi membuat lagu saja, pasti pesertanya ribuan.”

 Ternyata, semua dugaan skeptik itu tidak terbukti. Hari-hari terakhir menjelang tenggat, ratusan naskah membanjiri keranjang surat elektronik panitia. Lumayan repot juga menggunduh naskah yang membanjir di saat-saat akhir. “Deg-degan,” kata Agung Banardono, staf Tempo Institute yang bertugas mengawal tim seleksi naskah.

 Jantung panitia semakin kencang berdebar manakala gardu listrik Cawang, JakatSUaTerutama karena pada 29 September 2009, gardu induk Perusahaan Listrik Negara di Cawang, Jakarta Timur, terbakar. Aliran listrik di berbagai wilayah Jakarta mati, termasuk di bengkel kerja Tempo Institute, Jalan Haji Abu 23, Cipete, Jakarta Selatan. Jaringan internet tak berfungsi. Naskah yang membanjir tak bisa diunduh. Daftar nama peserta tak mungkin pula diperbarui.

 Pada saat yang sama, peserta gencar menanyakan nasib naskah yang mereka kirim kepada panitia. Telepon, pesan pendek, surat elektronik, juga komentar di website Tempo Institute berseliweran. “Rasanya mau ngilang dulu, deh,” begitu celetuk Ikhwan Al-Huda, anggota panitia, yang bertugas menjaga lalu-lintas naskah masuk.  

 Aliran listrik belum juga normal sampai berhari-hari kemudian. Proses mengunduh naskah dan perbaruan data peserta baru bisa tuntas pada 3 Oktober 2009. Itu pun masih jauh dari sempurna. Keluhan datang dari beberapa peserta yang merasa mengirim naskah sebelum tenggat. Koreksi dan koreksi pun dilakukan.  “Naskah yang masuk melampaui tenggat tidak kami toleransi. Kasihan, dong, peserta lain yang bekerja keras memenuhi deadline,” kata Agung.

 Paralel dengan kerja mengunduh naskah, tim yang dipimpin Agung juga mengerjakan seleksi naskah. Sepuluh orang dilibatkan dalam menyaring naskah pada tahap pertama. Tim awal inilah yang menyaring naskah sampai menjadi 100 naskah terbaik yang siap dipilih Dewan Juri. “Nggak bisa sekilas baca naskahnya, harus pelan-pelan,” kata Eko Kurniawan, salah satu anggota tim penyeleksi tahap awal.

 Pada 3 Oktober, seratus naskah hasil seleksi tim awal siap melaju menuju tahap berikutnya. Dewan Juri, terdiri dari Syafiq Basri Assegaf (Universitas Paramadina), Marianus Kleden (cendekiawan dari Flores), Cok Sawitri (penulis, Bali), Damayanti Buchori (peneliti IPB, Bogor), Budi S. Tanuwibowo (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), Idrus F. Shahab (Redaktur Pelaksana Tempo), dan LR. Baskoro (Redaktur Pelaksana Tempo) siap mengayunkan pena seleksi.

 Proses penjurian awalnya diharapkan berakhir pada 9 Oktober. Namun, para juri merasa keberatan dan meminta perpanjangan waktu. Maka, demi menjaga kualitas penilaian, penjurian diperpanjang sampai 12 Oktober 2009.

 Dan, tibalah sore yang bersejarah itu. Empat anggota Dewan Juri (Syafiq Basri, Budi S. Tanuwibowo, Idrus F. Shahab, dan LR. Baskoro) bersidang di kantor Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat. Tiga juri yang lain tidak bisa hadir dan menitipkan penilaian mereka kepada panitia. Sidang dibuka oleh Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, dan dihadiri juga oleh beberapa redaktur majalah ini.

 Tiga jam sidang berlangsung. Beberapa metodologi pemeringkatan dijajal demi mendapat tiga pemenang. Debat alot sesekali mewarnai sidang, terutama saat menimbang mana yang lebih penting: kualitas tulisan atau kualitas gagasan. Tentu saja debat tak berpanjang-panjang karena panitia sejak awal sudah menentukan garis, bahwa yang dipentingkan adalah kualitas gagasan. Kutipan pendapat Dewan Juri akan di-posting dalam tulisan terpisah.  

 Pukul delapan malam. Sidang berakhir. Palu telah diketok, Dewan Juri telah memutuskan para pemenang. Satu tahap penting telah dilalui. Selamat kami ucapkan kepada para pemenang.

 Buat seluruh peserta, kami ucapkan selamat berkarya. Lebih dari sekadar menang dan kalah, seribu lebih esai yang telah terangkum adalah energi bagi Indonesia yang lebih baik.

 

Salam.

Mardiyah Chamim,

Direktur Tempo Institute

This entry was filed under Berita, Info Kompetisi Esai. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

7 Responses to “Surat dari Proklamasi….”

  1. Hairul

    Luar biasa perjuangan panitia kompetisi ini setelah dibaca,
    Kl boleh usul mohon di umumkan siapa saja 100 naskah terbaik yang telah dipilih dewan juri. Hal ini tentunya agar kami bisa terus meningkatkan kemampuan dalm hal tulis menulis…………….

  2. Yuliana Sari

    Iya, sy sgt brhrp pntia bs mnmpiLkn skoR pniLaian sluruH psRta… AkN ttPi kLu sgT mmbRtkn, 100 psRta jg syuKur alhmduLiLLah! KLu bLm bS dpnuhi prmnTaan sy, neveR minD… MgKn mnLai dri snDri sdH sGt ckup utK bLjR dR kGaGaLn…

  3. syafbrani

    apalagi kalo karya2 semua ini dibukukan, biar menjadi catatan sejarah bahwa pemuda Indonesia itu masih terasa bangettt… :)

  4. suhez

    Wah…. dari awal hingga akhir memang lomba ini menarik banget
    saya juga sempat mengirimkan karya, hanya saja mungkin belum rezekinya…
    tapi saya cukup puas dengan adanya lomba ini…..
    Kepada Tempo, saya harap lomba2 seperti ini rutin dilakukan
    selain ajang belajar menulis bagi peserta. Sekaligus ajang ini untuk lebih mengenal negeri ini dari sisi yang baiknya yakni para generasinya yang masih peduli dengan nasib bangsanya. Di lain hal untuk semuanya, jangan sampai wacana ini hanya sebatas “sedang dibicarakan saja” tapi perlu dibuktikan ya!!!

  5. Daniel

    Luar biasa perjuangan panitia kompetisi ini setelah dibaca,
    Kl boleh usul mohon di umumkan siapa saja 100 naskah terbaik yang telah dipilih dewan juri. Hal ini tentunya agar kami bisa terus meningkatkan kemampuan dalm hal tulis menulis…………….

  6. Rob

    apalagi kalo karya2 semua ini dibukukan, biar menjadi catatan sejarah bahwa pemuda Indonesia itu masih terasa bangettt… :)

  7. Jonathan

    apalagi kalo karya2 semua ini dibukukan, biar menjadi catatan sejarah bahwa pemuda Indonesia itu masih terasa bangettt… :)

Leave a Reply