Undangan Terbuka “Kongres Pemuda Generasi 2.0″

22 October 2009

Ingin kopi darat dengan para pemenang Kompetisi Esai “Menjadi Indonesia”? Ingin bertemu pada juri, berdiskusi dengan mentor, atau sekadar berbincang dengan awak Tempo Institute?

Ayo, mari bergabung dengan “Kongres Pemuda Generasi 2.0”. Ini adalah penutupan resmi Kompetisi Esai yang akan digelar pada Senin, 26 Oktober 2009, di Gedung PPHUI, Jl Rasuna Said Kav. C22, Jakarta Selatan.

—————————————————————-

Telah lama berkumandang pendapat yang cenderung meremehkan pemuda. Mereka hampir selalu dituding malas membaca, segan menulis, apalagi berpikir serius tentang persoalan bangsa. Hura-hura, diseling tawuran, lekat dengan citra anak muda masa kini. Tudingan yang mungkin benar dan mungkin sekaligus keliru.

Bekerjasama dengan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa, Tempo Institute meluncurkan sebuah eksperimen serius tentang pemikiran anak muda. Kami ingin mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang Indonesia.

Sebuah kompetisi digelar. Kami menantang mahasiswa untuk menulis dengan payung besar “Menjadi Indonesia”. Frasa ini menandai sebuah keyakinan bahwa berbangsa adalah sebuah proses yang terus bertumbuh. Anak muda, dalam konteks masa depan, adalah yang paling berhak memberi tafsir atas frasa “Menjadi Indonesia.”

Akhir Juni 2009, Kompetisi Esai resmi diluncurkan. Tema besarnya adalah “Nasionalisme Ala Gue”. Sebuah poster yang cukup provokatif, didominasi warna oranye yang dinamis, disebar di 600 kampus di seluruh Indonesia. Kalimat utama dalam poster itu cukup menantang : “Kau, Di Tanganmu Masa Depan Bangsa”.

Awalnya kami tak berharap terlalu banyak. Dua ratus naskah masuk sudah membuat hati bungah. Ini kompetisi esai, Bung. Bukan kontes menyanyi atau adu panco.

Tenggat tiba, 30 September 2009. Tanpa kami duga, 998 mahasiswa dari 205 perguruan tinggi yang tersebar di 65 kota, 27 propinsi, menjawab tantangan kami. Seorang mahasiswa yang belajar di Kairo, Mesir, dan satu mahasiswa di Australia turut ambil bagian. Total jenderal, tercatat 1.048 naskah esai, 31 naskah di antaranya datang melampaui tenggat sehingga tak bisa diikutkan dalam proses berikutnya.

Seribu lebih naskah itu adalah kehormatan bagi kami. Sebuah bentuk kepercayaan dari kaum muda bahwa kompetisi ini layak menjadi kanal bagi pemikiran mereka. Seorang peserta yang menuliskan catatan kepada panitia: “Terimakasih. Kompetisi ini bukan sekadar lomba, tapi sarana bagi mahasiswa untuk berkontribusi kepada bangsa.”

Lebih dari sekadar angka, seribu lebih naskah esai itu adalah mozaik pemikiran anak muda yang teramat mutakhir. Ada kemarahan, kejengkelan, juga frustrasi atas kondisi Indonesia yang babak-belur di berbagai level. Tapi, dalam seribu lebih naskah itu juga tersirat tebal rasa cinta, harapan, dan gagasan untuk memperbaiki situasi. Mereka memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan.

Dan, tanpa kami sadari, kompetisi esai ini adalah bentuk kongres pemuda gaya baru. Sebuah kongres pemuda di zaman teknologi internet 2.0 yang memungkinkan setiap orang bertukar tangkap gagasan dengan lebih lepas.

28 Oktober 1928, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan ratusan utusan pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Kramat Raya. Mereka membuhulkan tekad satu bahasa, satu nusa, dan satu bangsa: Indonesia.

Zaman boleh berganti. Syukurlah, dalam skala lain, spirit tetap terjaga. Kini, seribu pemuda di seluruh penjuru Indonesia juga berkongres secara virtual. Mereka membulatkan tekad untuk Indonesia yang lebih baik.

Kompetisi ini akan resmi ditutup pada Senin, 26 Oktober 2009, di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta. Rincian acara adalah sebagai berikut:

Waktu ACARA
09.30 – 10.00 Registrasi
10.00 – 10.30 Pembukaan dan sambutan :
1. Bambang Harymurti / Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad
2. Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Bambang Darmono
10.30 – 10.45 Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri : “Nasionalisme Generasi  2.0”
10.45 – 11.00 Pemutaran film pendek “Menjadi Indonesia”
11.00 – 11.15 Teresia E.E. Pardede, penyanyi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dengan tema  : Mendengar Anak Muda Indonesia
11.15 – 11.45 Pembagian hadiah untuk para pemenang kompetisi esai
11.45 – 12.15 Band Efek Rumah Kaca
12.15 – selesai Makan siang

Tags:

This entry was filed under Berita, Info Kompetisi Esai. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

Leave a Reply