Dua Hari Menjelajah Indonesia
Sebuah lokakarya yang unik. Tidak hanya teoritis. Para peserta didampingi intensif untuk mengasah syaraf menulis.

Pagi itu Jakarta disiram hujan. Jalanan basah. Kendaraan mengular di setiap jengkal jalan. Namun, 30 peserta workshop bersemangat menuju Jalan Gatot Subroto, salah satu episentrum kemacetan Jakarta. ”Saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi,” kata Prabandari dari PricewaterhouseCooper, salah satu peserta.
Ini memang bukan acara biasa. Bertajuk “JELAJAH INDONESIA”, lokakarya ini digelar TEMPO INSTITUTE bersama Universitas Paramadina, Jakarta. Selama dua hari, 25-26 Januari, di kampus Paramadina, Jalan Gatot Subroto, para peserta saling berbagi dan belajar menulis feature. Ke-30 peserta ini datang dari berbagai latar belakang, aktivis LSM, karyawan perusahaan asuransi, akuntan, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan wartawan.
Bondan Winarno, wartawan senior dan reviewer kuliner ternama, didatangkan sebagai narasumber utama. Sederet wartawan TEMPO, antara lain Hermien Y. Kleden, M. Taufiqurohman, Mardiyah Chamim, Ahmad Taufik, Qaris Tajudin, Widiarsi Agustina, dan Marta Wartha turut mendampingi peserta.
Tak pelak lagi, dengan sederet wartawan sebagai narasumber dan mentor, workshop ini dipenuhi dengan ilmu dan tips praktis menulis. Totok A. Soefijanto dari Universitas Paramadina membuka workshop dengan pernyataan, “Anda datang di tempat yang tepat untuk belajar menulis.”
Bondan Winarno, kepala suku milis penggemar kuliner Jalansutra, adalah narasumber yang ditunggu-tunggu. Sang maestro kuliner berkisah tentang pengalamannya dalam menjelajah Indonesia dan juga mancanegara. “Saya percaya hukum input-output,” kata Bondan.
Tulisan (output) yang baik, kata pengampu acara ”Wisata Kuliner” di Trans TV ini, haruslah dibuat dari bahan (input) yang bagus pula. Membaca, mendengar musik, menonton film, dan jalan-jalan adalah bagian dari input. Bondan pun rajin menyimpan catatan, notes, setiap kali ’belanja’ atau memperbanyak input tulisan. ”Tumpukan notes itu saya simpan di rak toilet di rumah. Setiap kali saya mencari ilham tulisan, saya buka-buka lagi notes itu,” kata Bondan.
Hermien Y Kleden, Redaktur Eksekutif U Mag, majalah gaya hidup yang diterbitkan Grup Tempo, menyambung dengan materi teknis menulis feature. Tulisan feature, sering disebut dengan berita kisah, menuntut eksplorasi unsur ”why” dan ”how” secara mendalam. Karena itu penulis harus mampu menyuguhkan dengan baik apa yang ada dalam kisah yang dituturkan. ”Kisah human interest amat cocok ditulis dalam bentuk feature,” kata Hermien.
Angle atau sudut pandang yang tajam adalah syarat membuat feature bagus. Begitu yang disampaikan M. Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo, dalam materi berikutnya. ”Angle ini yang menuntun si penulis untuk membuat tulisan yang fokus dan menarik,” kata Taufiq.
Tulisan feature juga sebaiknya didukung dengan foto yang mampu berbicara. Arie Basuki, fotografer Tempo, membagi pengalamannya tentang fotografi. Tak perlu kamera yang canggih dan mahal, kamera kacangan pun bisa menghasilkan foto yang bagus. ”Yang penting, jangan ragu mengambil sudut bidik yang tepat. Mendekatlah dengan sumber yang akan dipotret. Jangan takut mencoba berbagai angle,” kata Arie. Kapsion, teks keterangan foto yang mengandung unsur 5W + 1 H, mutlak dibutuhkan untuk menjadikan foto lebih mampu membawa cerita.
Lalu, tibalah saat praktek menulis. Angle, outline, dan cara menulis didiskusikan dengan interaktif. Ahmad Taufik, Qaris Tajudin, Martha Warta, dan Mardiyah Chamim bertugas sebagai mentor pendamping peserta. Workshop ini memang bukan semata berbagai teori, tapi yang lebih penting adalah latihan menulis. ”Kalau sekadar teori, mah, saya bisa baca buku,” kata Tiwin S. Herman, salah seorang peserta.
Pada ujung acara, satu demi satu peserta menyajikan hasil praktek. Maka, gairah menjelajah Indonesia tampil di sini. Tiwin, misalnya, menyajikan tulisan feature berjudul ”Oh….Koteka” yang disarikan dari pengalaman Tiwin saat berkunjung ke Papua. ”Saya kaget dan juga penasaran, ingin tahu apa dan bagaimana koteka ini. Bukan isinya, lo,” kata Tiwin yang langsung disambut gemuruh tawa peserta.
Rizal Khadafi menulis tentang sekelompok anak muda penggemar puzzle Rubik’s Cube. Henny Hariani menyajikan pengalaman saat berwisata backpacking Jakarta – Yogyakarta, bersama tiga anaknya, demi menikmati nyala kembang api di Candi Prambananan. Lalu, ada Anda Sapardan yang menikmati khazanah kuliner Indonesia dengan penuh kecintaan. ”Makan, bagi keluarga saya, bukan hanya pemuas lidah tapi juga memperkaya pengalaman,” kata Anda.
Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute, menutup workshop ini dengan mendorong peserta untuk terus menulis. Bukan hanya soal kuliner atau menjelajah daerah wisata, tapi berbagai aspek kehidupan di Indonesia. ”Mari menjelajah Indonesia, mari saling mengenal budaya, dan merayakan keragaman Indonesia,” katanya. (WHS-MCH)

February 22nd, 2010 at 10:37 pm
belajar banyak