Selamat Ulang Tahun, TEMPO
dari note Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
——-
Kawan-kawan Tempo di seluruh Indonesia, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk rekan wartawan, karyawan, koresponden, dan semua yang merasa menjadi keluarga besar Tempo.
Hari ini kita merayakan ulang tahun Tempo yang ke-39 — yang sesungguhnya jatuh pada 6 Maret. Syukur kita bertahan sampai sejauh ini. Dan kita bertahan karena kita merasa perjalanan belum selesai dan semua kita ingin memberikan sumbangan kepada negeri walau sesedikit apapun.
Di dalam diri saya, pasti juga rekan semua, terkadang muncul pertanyaan: apakah cita-cita pendiri Tempo sudah tercapai di usia 39 tahun ini?
Saya tak bisa menjawabnya. Tapi, bila sekali saja ada sekelompok orang yang melakukan perubahan karena membaca Tempo untuk membuat Indonesia lebih baik, ini sudah sebuah keberhasilan.
Kalau ada sekelompok masyarakat lain yang terbiasa mencurangi negerinya, dan mereka berubah setelah terinspirasi oleh Tempo, itu berarti kita yang bertahan di organisasi ini dan sekalian pendirinya sudah melakukan hal yang benar.
Bila ada birokrat buruk yang mengubah kebijakannya menjadi lebih baik untuk publik setelah membaca Tempo, itu pertanda jerih payah kita ada hasilnya.
Seandainya ada legislator yang terilhami Tempo dan kemudian membuat aturan main lebih baik untuk rakyat, kita sudah memetik hasil dari perjalanan ini.
Kalau ada satu saja anggota pemerintahan yang membuat kebijakan bagus sebab ia terpengaruh tulisan Tempo, 39 tahun ini jelas tak sia-sia.
Kalau pun semua ini belum kita dapatkan, tapi ada satu dua orang pembaca yang terhibur oleh tulisan Tempo, oleh kejernihan dan kelancaran bertutur, ini pun sudah menggembirakan.
Yang juga melegakan adalah kenyataan bahwa Tempo tidak beringsut dari posisinya seperti 39 tahun yang lalu.
Tempo tetap berjarak dari pejabat yang kita anggap baik. Kita pun tidak menjadi musuh dari orang yang kita anggap jahat. Sebab tak ada yang mutlak pada apa yang kita anggap baik dan jahat itu. Selalu ada peluang kita salah tafsir dalam anggapan baik dan jahat tadi.
Dengan posisi ini, kadang-kadang Tempo seperti sendiri dan kesepian karena tak bisa terlalu rapat dengan yang kita anggap baik. Sekaligus, Tempo sering sekali dianggap tak bersikap jelas pada yang dianggap jahat sebab kita tak bisa menghujat mereka yang kita anggap jahat.
Tapi jurnalisme yang saya pahami bukanlah soal menjadi teman orang yang kita anggap baik atau musuh orang yang kita anggap jahat. Jurnalisme yang saya pahami adalah soal mendekati kebenaran yang terkadang berliku, berkelok dan sangat panjang.
Mengambil sikap seperti ini mengharuskan Tempo selalu melakukan evaluasi atas kebijakan pemberitaaannya. Terus menerus. Sebab yang kita anggap baik dan jahat senantiasa juga berubah. Tak ada yang statis selama bumi berputar.
Siapapun yang kelak memimpin Tempo saya yakin akan menjaga sikap ini. Selamat ulang tahun Tempo, selamat ulang tahun kawan-kawan Tempo di seluruh pelosok negeri. Semoga Tuhan meridhoi jerih payah dan sumbangan kita pada negeri.
Toriq Hadad
4 Maret 2010, dari Proklamasi 72
Tags: TEMPO, Ulang Tahun

Leave a Reply