Lebih Canggih dengan Menulis
PENGANTAR : Tempo Institute menggelar program “KLINIK MENULIS”. Program yang dirancang untuk melatih keterampilan menulis peserta ini dilakukan dalam lima kali pertemuan, tiap Selasa, di kantor Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72, Jakarta. Kami akan menurunkan laporan mengenai pelaksanaan program ini setiap pekan.
****
Nurjanah berkata tersendat. “Setiap kali datang ke gedung ini, aku teringat suamiku. Hidupnya ada di sini,” kata Bu Nunun, begitu panggilan akrabnya. Perempuan 60-an tahun ini adalah janda Yusril Djalinus, salah satu pemimpin Tempo yang meninggal tahun lalu. “Aku jadi sedih. Masih teringat, dia rapat terakhir di ruangan ini,” kata Nurjanah.
Ruang rapat lantai 1, Jalan Proklamasi 72, Jakarta, kantor Majalah TEMPO. Itulah gedung penuh kenangan bagi Bu Nunun. Siang itu, Selasa 4 Mei 2010, Bu Nunun menjadi salah satu peserta “KLINIK MENULIS”, sebuah program workshop menulis intensif yang digelar TEMPO Institute. “Saya ingin bisa menulis, terutama untuk mendukung pelajaran bahasa Inggris,” kata Bu Nunun yang mengelola sebuah kursus bahasa Inggris.
“Klinik Menulis” berlangsung selama lima pekan, dengan pertemuan saban Selasa pada pukul 10-12 siang. Beberapa jurnalis, antara lain Mardiyah Chamim, M Taufiqurohman, Dwi Setyo Irawanto, Hermien Kleden, menjadi pemateri pada program yang dirancang interaktif dan kaya praktek ini.
Delapan peserta mengikuti klinik angkatan pertama ini. Salah satunya adalah Liliek Wardojo, praktisi komunikasi dan pemasaran. “Saya ingin menulis yang enak dibaca dan perlu,” katanya. Peserta lain adalah Alvin Lie, politikus Partai Amanat Nasional yang lebih suka disebut pengusaha. “Saya menerbitkan laman JurnalParlemen.com, jadi memang membutuhkan pelatihan menulis,” katanya kepada Mardiyah Chamim, Direktur Tempo Institute.
Lalu, ada Edi Setiawan Tehuteru, dokter spesialis anak, yang ingin mendalami teknik menulis ilmiah populer. “Ada banyak isu kesehatan yang belum dan perlu diketahui masyarakat,” kata Edi yang pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Teknik menulis ilmiah populer juga ingin didalami Asih Eka Putri, seorang konsultan di bidang jaminan sosial. “Masyarakat baru terbangun saat Barack Obama sibuk mereformasi sistem jaminan kesehatan di Amerika. Tapi, setelah itu, sepi lagi,” kata Asih. Praktis, menurut Asih, tak ada upaya kontinyu dan serius di tengah publik untuk membahas jaminan sosial dengan tuntas.
Niat membangkitkan kesadaran masyarakat juga ingin diraih Midaria Saragih, peneliti di Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara). “Isu illegal fishing, misalnya, kompleks dan susah dimengerti. Perlu tulisan yang bagus dan enak dibaca,” kata Mida. “Saya juga ingin terbebas dari segala belenggu yang membatasi kreativitas menulis.”
Djatnika S. Puradinata, insinyur di PT Medco Energi, punya niat menulis yang tak jauh berbeda. “Saya ingin menulis sesuai standar media massa. Suatu saat saya juga ingin menulis buku,” kata Djatnika.
Lain lagi harapan Widya Handarani Sapardan, karyawan rumah sakit bersalin di Jakarta. Ibu rumah tangga berputra dua ini ingin mengasah keterampilan menulis perjalanan. “Sejak kecil saya suka traveling, tapi baru belakangan sadar bahwa seharusnya saya menuliskan pengalaman perjalanan, terutama untuk membuka wawasan anak-anak,” kata Anda.
Kelas hari itu dibuka dengan penggalian ide. “Menulis itu bermain di dunia gagasan. Harus unik, jangan generik, untuk memikat perhatian pembaca,” kata Mardiyah Chamim, Direktur Tempo Institute. Karenanya, pemilihan sudut pandang (angle) menjadi kunci yang penting. “Angle ini menentukan keberhasilan tulisan.”
Presentasi materi oleh Dwi Setyo Irawanto, mantan redaktur ekonomi Tempo yang kini menjadi penulis lepas, menjadi penutup kelas hari itu. “Menulis adalah sebuah mind exercise dan kegiatan yang mengandalkan proses rasional,” kata Dwi yang akrab dipanggil Siba. “Jadi, semua orang bisa belajar menulis.”
Menulis, Siba menekankan, adalah kegiatan yang berharga. “Menulis bisa mendorong komunikasi dan juga kemajuan karir seseorang. Memang, ada profesi yang tidak perlu keahlian menulis. Misalnya, tukang ojek. “Tapi, seorang tukang ojek yang pandai menulis mungkin lebih berpeluang meraih konsumen dan jaringan lebih luas,” kata Dwi.
Faedah lain dari menulis, kata Dwi Setyo, adalah bisa mengekspresikan diri dengan lebih leluasa. Pemahaman akan diri dan sekitar menjadi lebih kompleks dan canggih, sophisticated. “Dengan menulis kita mampu lebih memahami lebih hakikat kita sebagai manusia.” (MCH, Susan Sutardjo)

June 18th, 2010 at 11:37 am
di kampung tempat andaman dan asep bekerja sudah ada warga membuat tulisan unutk dimuat dalam bulletin puter, mereka tulis tangan saja
June 21st, 2010 at 10:25 am
wah, keren itu. Kumpulkan dulu, Kang, pasti suatu saat layak untuk disunting dan diterbitkan.
August 9th, 2010 at 8:10 am
bagaimana proses daftar seleksi dan biayanya? apakah hanya untuk kalangan berprofesi saja? dan bagimana dengan mahasiswa? thanks.