Angle Tajam, Tulisan Menawan

17 May 2010

KLINIK MENULIS, pertemuan kedua,  11 Mei 2010. Perumusan angle yang tajam adalah kunci tulisan yang bagus. Perlu diikuti dengan penjabaran outline, kerangka tulisan.  

***** 

Ini dia resep jitu menulis. “Berawal dari pemilihan angle, sudut pandang,” kata Taufiqurohman, redaktur ekonomi Majalah Tempo.  “Semakin tajam angle yang dibidik, semakin bagus tulisan itu,” kata Taufiq, mengantarkan pertemuan kedua Klinik Menulis Tempo Institute, Selasa 11 Mei lalu di kantor Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72, Jakarta.

Merumuskan angle gampang-gampang susah.  Penulis senior pun kerap masih harus berjuang memilih dan memilah angle yang menarik. Taufiq berbagi jurus memilih sudut pandang ini. Pertimbangan utama adalah kriteria layak berita (newsworthy), mulai dari aktualitas, eksklusifvitas, signifikansi, human interest, sampai keunikan. Setiap sudut pandang harus dirujuk pada kriteria newsworthy, lalu diuji mana sudut pandang paling penting dan menarik untuk pembaca.

Jurus berikutnya, kata Taufiq, ”Gunakan kalimat tanya sebagai alat mempermudah perumusan.” Misalnya, mengapa tren penderita stroke cenderung semakin muda usia? Apa saja langkah yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah kanker pada anak-anak? Benarkah Susno Duadji bersedia membuka rahasia para jenderal polisi?

Sebuah tulisan, Taufiq menekankan, harus memiliki satu angle. “Penulis harus setia dan disiplin pada angle yang sudah dipilihnya,” katanya. Jika dalam satu tulisan ada lebih dari satu angle, maka fokus akan terbelah.  Akibatnya, pembahasan tidak mendalam dan malah jadi melebar tak tentu arah. “Pembaca pun menjadi bosan,” kata Taufiq.

Perumusan angle perlu diikuti dengan penjabaran outline, kerangka tulisan. “Jika ingin selamat, tidak melenceng dari angle, penulis harus merancang outline” kata Taufiq. Outline ini terutama perlu untuk tulisan yang bermateri kompleks dan panjang. Pada outline ini, penulis merencanakan bagaimana cara penggalian bahan tulisan, bisa melalui wawancara, reportase, dan juga riset pustaka.   

Pada kelas kedua ini, Taufiq membahas pekerjaan rumah yang diberikan kepada peserta. Tulisan Alvin Lie, Sri Mulyani Sang Primadona, sepi dari kritikan. Tulisan ini bahkan dimuat di halaman Opini, Kompas, 6 Mei 2010. ”Saya juga nggak nyangka bakal langsung dimuat,” katanya sambil tertawa lebar. ”Saya buat dengan panduan newsworthy yang disampaikan di kelas pertama.”

Asih Eka Putri, Direktur Konsultan Jaminan Sosial Martabat, membuat draf tulisan berjudul “Mendobrak Kebuntuan Reformasi Jaminan Sosial”. Sebuah topik penting tetapi tidak dibahas  secara tuntas. Topik ini bertahun-tahun seperti membentur tembok arogansi antar instansi.  “Menteri Kesehatan seperti baru tersadar ketika Barack Obama membahas reformasi sistem jaminan kesehatan di Amerika,” kata Asih. 

Penulis, menurut penilaian Taufiq, belum membekali diri dengan pemilihan angle yang tajam. Akibatnya, tulisan tidak runtut dan membingungkan. Tulisan akan lebih terarah bila penulis cermat memilih angle. Misalnya, mengapa pemerintah tidak kunjung melaksanakan pekerjaan rumah merancang sistem jaminan sosial seperti dijanjikan lima tahun lalu, apa saja hambatan penerapan pelaksanaan sistem jaminan sosial, atau apa saja dampak ketiadaan jaminan sosial bagi masyarakat?

Pembahasan beralih pada Djatnika S. Puradinata, peserta dari Medco Energi, yang membuat tulisan bertema rendahnya kelulusan Ujian Nasional.  Ditinjau dari fakta, tulisan Djatnika cukup punya alasan untuk ditulis.  “Tingkat kelulusan turun, bahkan ada ratusan sekolah yang tingkat kelulusannya nol,” kata Taufik. Namun, isi tulisan Djatnika luput menyajikan sebab-sebab penurunan tingkat kelulusan. Misalnya, standar kelulusan dinaikkan tanpa diimbangi peningkatan mutu pengajar dan prasarana sekolah. 

Topik yang dipilih Djatnika memang cocok untuk opini.  Namun, sayangnya, angle tidak dirumuskan secara tajam dan spesifik. Akibatnya, tulisan berhenti pada persoalan kultur, yakni menekankan pentingnya etos kerja dan semangat juang. Pada tulisannya, Djatnika menganjurkan para guru sebaiknya menggenjot etos kerja murid.

Mardiyah Chamim, Direktur Tempo Institute, sepakat dengan penilaian Taufiq.  “Persoalan di lapangan tidak berhenti pada etos. Ada banyak hal yang tidak fair dalam pelaksanaan ujian nasional,” katanya.

Kelas kemudian bersama-sama membahas poin demi poin angle dan penjabarannya. Tulisan Djatnika, misalnya, perlu diperkaya dengan argumen yang tidak sekadar positivisme. Sejenak flashback, menengok ke masa lalu, berguna untuk memperkaya argumen. Pada pasa perguruan Taman Siswa dirintis, fasilitas pendidikan serba terbatas dan bersahaja, tapi toh produk pendidikan bisa bermutu.

Lalu, mengapa di zaman dana pendidikan 20 persen, mutu pendidikan serba membuat prihatin? Salah satu indikatornya, ya, rendahnya tingkat kelulusan ujian nasional tadi. Rincian penjelasan atas pertanyaan inilah yang kemudian dibahas dalam outline tulisan Djatnika.

Edi Tehuteru, dokter spesialis kanker anak, menyajikan tulisan mengenai pentingnya kepedulian orang tua dan pemerintah untuk mencegah kanker anak. ”Kita selama ini terlalu sibuk di hilir, mengobati kanker stadium 4,” katanya. Padahal, dengan mengenali gejala-gejala stadium dini, kanker bisa disembuhkan. ”Itu sebabnya perlu keterlibatan lebih dari orang tua dan pemerintah,” kata Edi.

Tulisan Edi, menurut Taufiq, amat penting untuk diketahui masyarakat luas. ”Namun, perlu disisir dengan angle lebih tajam,” katanya. Perumusan angle yang fokus pada sisi positif, yakni bahwa kanker bisa disembuhkan di tahap dini, bisa membuat tulisan jadi menarik. ”Jadi, tidak menakut-nakuti pembaca,” katanya.

            Diskusi semakin gayeng. Para peserta mengungkapkan kesulitan dalam organisasi ide, yakni merumuskan angle dan kemudian menjabarkannya dalam bentuk outline tulisan. ”Saya terbiasa menulis panjang dan menyeluruh dari sudut pandang ilmiah. Tidak ingin melewatkan bagian penting,” kata Midaria Saragih, peneliti dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara).

            Kesulitan serupa juga diungkapkan Asih Eka Putri. “Bagaimana memilih angle yang tepat untuk tulisan 700 kata, 2000 kata, 10 ribu kata?”

Panjang-pendek tulisan, Taufiq menekankan, tidak selalu terkait dengan pemilihan angle. “Angle itu seperti jendela bidik kamera saat memotret sesuatu,” kata Taufiq. Jika hendak fokus membedah keseluruhan masalah, maka tulisan bisa panjang. Bila ingin fokus di satu titik, tulisan akan pendek. Tapi, ini bukan format baku. “Bisa saja bahasan fokus di satu titik, tapi tulisannya panjang,” kata Taufiq. “Tergantung kompleksitas masalahnya juga.”

Topik ujian nasional, umpamanya, bisa ditulis pendek jika angle yang dipilih adalah bagaimana suka-cita murid yang lulus. Tapi, topik ini bisa ditulis panjang lebar jika sudut pandang yang dibidik adalah menyoroti kualitas sistem pendidikan nasional. Persoalan biaya saja sudah kompleks, belum lagi soal kualitas guru, model pengajaran, dan kepedulian orang tua. “Bisa jadi buku yang tebal, kan,” kata Taufiq.

(MCH, Susan Sutardjo)

****

This entry was filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

One Response to “Angle Tajam, Tulisan Menawan”

  1. Taryono

    Terima kasih Mbak, berguna buat saya..sayang tidak sempat ikut pelatihan-nya

Leave a Reply