<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tempo Institute</title>
	<atom:link href="http://www.tempo-institute.org/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tempo-institute.org</link>
	<description>Center of Excellent Institute</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 06:03:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun, TEMPO</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/03/09/selamat-ulang-tahun-tempo/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/03/09/selamat-ulang-tahun-tempo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 06:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4316</guid>
		<description><![CDATA[dari note Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO
&#8212;&#8212;-
Kawan-kawan Tempo di seluruh Indonesia, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk rekan wartawan, karyawan, koresponden, dan semua yang merasa menjadi keluarga besar Tempo.
Hari ini kita merayakan ulang tahun Tempo yang ke-39 &#8212; yang sesungguhnya jatuh pada 6 Maret. Syukur kita bertahan sampai sejauh ini. Dan kita bertahan karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dari note Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Kawan-kawan Tempo di seluruh Indonesia, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk rekan wartawan, karyawan, koresponden, dan semua yang merasa menjadi keluarga besar Tempo.</p>
<p>Hari ini kita merayakan ulang tahun Tempo yang ke-39 &#8212; yang sesungguhnya jatuh pada 6 Maret. Syukur kita bertahan sampai sejauh ini. Dan kita bertahan karena kita merasa perjalanan belum selesai dan semua kita ingin memberikan sumbangan kepada negeri walau sesedikit apapun.</p>
<p>Di dalam diri saya, pasti juga rekan semua, terkadang muncul pertanyaan: apakah cita-cita pendiri Tempo sudah tercapai di usia 39 tahun ini?</p>
<p>Saya tak bisa menjawabnya. Tapi, bila sekali saja ada sekelompok orang yang melakukan perubahan karena membaca Tempo untuk membuat Indonesia lebih baik, ini sudah sebuah keberhasilan.</p>
<p>Kalau ada sekelompok masyarakat lain yang terbiasa mencurangi negerinya, dan mereka berubah setelah terinspirasi oleh Tempo, itu berarti kita yang bertahan di organisasi ini dan sekalian pendirinya sudah melakukan hal yang benar.</p>
<p>Bila ada birokrat buruk yang mengubah kebijakannya menjadi lebih baik untuk publik setelah membaca Tempo, itu pertanda jerih payah kita ada hasilnya.</p>
<p>Seandainya ada legislator yang terilhami Tempo dan kemudian membuat aturan main lebih baik untuk rakyat, kita sudah memetik hasil dari perjalanan ini.</p>
<p>Kalau ada satu saja anggota pemerintahan yang membuat kebijakan bagus sebab ia terpengaruh tulisan Tempo, 39 tahun ini jelas tak sia-sia.</p>
<p>Kalau pun semua ini belum kita dapatkan, tapi ada satu dua orang pembaca yang terhibur oleh tulisan Tempo, oleh kejernihan dan kelancaran bertutur, ini pun sudah menggembirakan.</p>
<p>Yang juga melegakan adalah kenyataan bahwa Tempo tidak beringsut dari posisinya seperti 39 tahun yang lalu.</p>
<p>Tempo tetap berjarak dari pejabat yang kita anggap baik. Kita pun tidak menjadi musuh dari orang yang kita anggap jahat. Sebab tak ada yang mutlak pada apa yang kita anggap baik dan jahat itu. Selalu ada peluang kita salah tafsir dalam anggapan baik dan jahat tadi.</p>
<p>Dengan posisi ini, kadang-kadang Tempo seperti sendiri dan kesepian karena tak bisa terlalu rapat dengan yang kita anggap baik. Sekaligus, Tempo sering sekali dianggap tak bersikap jelas pada yang dianggap jahat sebab kita tak bisa menghujat mereka yang kita anggap jahat.</p>
<p>Tapi jurnalisme yang saya pahami bukanlah soal menjadi teman orang yang kita anggap baik atau musuh orang yang kita anggap jahat. Jurnalisme yang saya pahami adalah soal mendekati kebenaran yang terkadang berliku, berkelok dan sangat panjang.</p>
<p>Mengambil sikap seperti ini mengharuskan Tempo selalu melakukan evaluasi atas kebijakan pemberitaaannya. Terus menerus. Sebab yang kita anggap baik dan jahat senantiasa juga berubah. Tak ada yang statis selama bumi berputar.</p>
<p>Siapapun yang kelak memimpin Tempo saya yakin akan menjaga sikap ini. Selamat ulang tahun Tempo, selamat ulang tahun kawan-kawan Tempo di seluruh pelosok negeri. Semoga Tuhan meridhoi jerih payah dan sumbangan kita pada negeri.</p>
<p>Toriq Hadad<br />
4 Maret 2010, dari Proklamasi 72</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/03/09/selamat-ulang-tahun-tempo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/24/seminar-menulis-opini-di-zaman-2-0/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/24/seminar-menulis-opini-di-zaman-2-0/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4298</guid>
		<description><![CDATA[TEMPO INSTITUTE  dengan bangga menghadirkan seminar “Menulis di Zaman 2.0”. Investasi berharga bagi siapa pun yang ingin berbagi gagasan kepada publik. 
Zaman kian bergegas seiring derap teknologi. Media tempat beropini tak lagi hanya koran dan majalah. Anda bisa menuangkan gagasan di blog, Facebook, Twitter, You Tube, dan berbagai laman penyedia lahan jurnalisme warga.
Arena beradu pendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TEMPO INSTITUTE  dengan bangga menghadirkan seminar “Menulis di Zaman 2.0”. Investasi berharga bagi siapa pun yang ingin berbagi gagasan kepada publik. </strong></p>
<p>Zaman kian bergegas seiring derap teknologi. Media tempat beropini tak lagi hanya koran dan majalah. Anda bisa menuangkan gagasan di blog, Facebook, Twitter, You Tube, dan berbagai laman penyedia lahan jurnalisme warga.</p>
<p>Arena beradu pendapat semakin luas berkat jejaring web 2.0 yang menjadikan dunia tak lagi berbatas. Sebuah fenomena yang perlu kita imbangi dengan menguatkan piranti lunak utama, yakni kemampuan menuangkan gagasan.</p>
<p>TEMPO INSTITUTE bersama Paramadina menyelenggarakan seminar menulis opini dengan menghadirkan penulis senior dan editor rubrik opini.  Seminar ini, digelar pada 30 Maret 2010, di Kampus Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, adalah menu wajib dan investasi berharga bagi Anda yang ingin bersuara dan berbagi gagasan.</p>
<p>Goenawan Mohamad, wartawan senior dan pendiri TEMPO, untuk pertama kalinya akan buka-bukaan tentang rahasia proses kreatif di balik Catatan Pinggir. Toriq Hadad (Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO)  dan Kornelius Purba (Redaktur Opini The Jakarta Post) akan berbagi tips dan kiat menembus barikade dewan redaksi. Kriteria tulisan yang layak dimuat sebagai kolom atau opini akan diuraikan di sini.</p>
<p>Seminar ini juga menghadirkan Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Jaleswari Pramodhawardani (peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan Wicaksono “Ndoro Kakung” (narablog, Redaktur TEMPO). Mereka bertiga akan membagi jurus menulis opini, baik melalui media konvensional maupun media sosial.</p>
<p>Nah, tunggu apa lagi? Jangan sampai ketinggalan. Untuk kenyamanan, kami membatasi peserta hingga 50 orang. Informasi teknis pendaftaran bisa diunduh di <a href="http://www.tempo-institute.org/">www.tempo-institute.org</a>. Sila menghubungi Sdr. Noer Hayati di 021-71102154 untuk keterangan lebih lanjut.</p>
<p>Mari menajamkan pena, mari menyebarkan gagasan ke seluruh dunia.</p>
<p>****</p>
<p><strong>Sesi I : 09.00 &#8211; 12.00</strong></p>
<p><strong>Proses Kreatif Di Balik Catatan Pinggir</strong><br />
Goenawan Mohamad (Redaktur Senior Majalah Tempo)<br />
Moderator :  Mardiyah Chamim</p>
<p><strong>12.00 &#8211; 13.00 : istirahat, makan siang</strong></p>
<p><strong>Sesi II : 13.00 &#8211; 15.00</strong></p>
<p><strong>Dari Ruang Redaktur, Kriteria Kolom / Opini</strong><br />
Toriq Hadad (Pemimpin Redaksi Majalah Tempo)<br />
Kornelius Purba (Redaktur Opini The Jakarta Post)<br />
Moderator : Nugroho Dewanto</p>
<p><strong>Sesi III : 15.00 &#8211; 16.00</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Kolumnis, media konvensional dan new media</strong><br />
Anies Baswedan, Ph.D  (Rektor Universitas Paramadina)<br />
Jaleswari Pramodawardhani (peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)<br />
Wicaksono &#8220;Ndoro Kakung&#8221; (Redaktur Pelaksana Majalah Tempo)<br />
Moderator: Nugroho Dewanto</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat</strong><br />
Selasa, 30 Maret 2010, pukul 9 pagi &#8211; 5 sore<br />
Auditorium Nurcholish Madjid &#8211; Universitas Paramadina<br />
Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang, Jakarta 12790</p>
<p><strong>Peserta</strong><br />
Praktisi pendidikan, dokter, pengacara, jurnalis, aktivis LSM, mahasiswa, siapa pun yang berminat berbagi ide melalui tulisan kolom / opini di media massa.</p>
<p><strong>Tempat terbatas hanya untuk 50 orang.</strong><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Investasi </strong></p>
<p><strong>Rp. 1. 500.000 per orang. BONUS : 3 bulan langganan gratis Koran TEMPO</strong></p>
<p>Peserta mengisi formulir dan mentransfer dana sesuai<br />
ketentuan yang akan dijelaskan lebih lanjut.</p>
<p><strong>Tempo Institute</strong><br />
Office:<br />
Jl. Proklamasi No. 72 Jakarta 10320<br />
Telp. 021 – 3916160</p>
<p>Sekretariat:<br />
Jl. Haji Abu No. 23 Cipete Selatan, Jakarta Selatan 12150<br />
Telp. 021 – 71102154,<br />
Fax. 021 – 7693046<br />
Website : <a href="../" target="_blank">www.tempo-institute.org</a></p>
<p>E-mail : <a href="mailto:tempoinstitute@yahoo.com">tempoinstitute@yahoo.com</a>, atau <a href="mailto:tempoinstitute@gmail.com">tempoinstitute@gmail.com</a></p>
<p>Download :</p>
<ul>
<li><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2010/02/03.-Formulir-Seminar-Opini.pdf">Formulir Seminar Opini</a></li>
<li><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2010/02/02.-Jadwal-Seminar.pdf">Jadwal Seminar</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/24/seminar-menulis-opini-di-zaman-2-0/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obrolan Sore</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/12/obrolan-sore/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/12/obrolan-sore/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 11:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[obrolan]]></category>
		<category><![CDATA[sore]]></category>
		<category><![CDATA[tempo institute]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4287</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan Sore, sebuah wadah berbagi pengalaman dan teknis menulis yang digelar Tempo Institute.
Tema obrolan kali ini adalah “Menulis Kisah Perjalanan”.
Matatita Suluhpratitasari, penulis buku “Tales from the Road”, akan berbagi tips dan segunung kisah menarik sepanjang perjalanannya menjelajah Indonesia dan dunia.
Mardiyah Chamim, wartawan, Direktur Tempo Institute, penulis buku “Sejarah Tumbuh di Kampung Kami”, turut menemani obrolan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Obrolan Sore</strong>, sebuah wadah berbagi pengalaman dan teknis menulis yang digelar Tempo Institute.</p>
<p>Tema obrolan kali ini adalah “Menulis Kisah Perjalanan”.<span id="more-4287"></span></p>
<p><strong>Matatita Suluhpratitasari</strong>, penulis buku “<em>Tales from the Road</em>”, akan berbagi tips dan segunung kisah menarik sepanjang perjalanannya menjelajah Indonesia dan dunia.</p>
<p><strong>Mardiyah Chamim</strong>, wartawan, Direktur Tempo Institute, penulis buku “Sejarah Tumbuh di Kampung Kami”, turut menemani obrolan. Proses kreatif, tips praktis menulis kisah perjalanan akan dibagi di sini.</p>
<p>Obrolan sore ini terbuka untuk umum, tanpa batasan umur, dan yang pasti acara ini gratis. Peserta terbatas <em>nich</em>, hanya 30 orang saja, <em>so</em> buruan daftar.</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut hubungi :</p>
<p>Agung Banardono : 081 808 456344</p>
<p>Selamat Bergabung</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/02/12/obrolan-sore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Hari Menjelajah Indonesia</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/01/29/dua-hari-menjelajah-indonesia/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/01/29/dua-hari-menjelajah-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 04:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4281</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah lokakarya yang unik. Tidak hanya teoritis. Para peserta didampingi intensif untuk mengasah syaraf menulis.

Pagi itu Jakarta disiram hujan. Jalanan basah. Kendaraan mengular di setiap jengkal jalan. Namun,  30 peserta workshop bersemangat menuju Jalan Gatot Subroto, salah satu episentrum kemacetan Jakarta.  ”Saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi,” kata Prabandari dari PricewaterhouseCooper, salah satu peserta.
Ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebuah lokakarya yang unik. Tidak hanya teoritis. Para peserta didampingi intensif untuk mengasah syaraf menulis.</em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-4284" title="jlj" src="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2010/01/jlj.jpg" alt="jlj" width="604" height="383" /></p>
<p>Pagi itu Jakarta disiram hujan. Jalanan basah. Kendaraan mengular di setiap jengkal jalan. Namun,  30 peserta workshop bersemangat menuju Jalan Gatot Subroto, salah satu episentrum kemacetan Jakarta.  ”Saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi,” kata Prabandari dari PricewaterhouseCooper, salah satu peserta.</p>
<p>Ini memang bukan acara biasa. Bertajuk “JELAJAH INDONESIA”, lokakarya ini digelar TEMPO INSTITUTE bersama Universitas Paramadina, Jakarta. Selama dua hari, 25-26 Januari, di kampus Paramadina, Jalan Gatot Subroto, para peserta saling berbagi dan belajar menulis feature. Ke-30 peserta ini datang dari berbagai latar belakang, aktivis LSM, karyawan perusahaan asuransi, akuntan, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan wartawan.</p>
<p>Bondan Winarno, wartawan senior dan reviewer kuliner ternama, didatangkan sebagai narasumber utama. Sederet wartawan TEMPO, antara lain Hermien Y. Kleden, M. Taufiqurohman, Mardiyah Chamim, Ahmad Taufik, Qaris Tajudin, Widiarsi Agustina, dan Marta Wartha turut mendampingi peserta.</p>
<p>Tak pelak lagi, dengan sederet wartawan sebagai narasumber dan mentor, workshop ini dipenuhi dengan ilmu dan tips praktis menulis. Totok A. Soefijanto dari Universitas Paramadina membuka workshop dengan pernyataan, “Anda datang di tempat yang tepat untuk belajar menulis.”</p>
<p>Bondan Winarno, kepala suku milis penggemar kuliner Jalansutra, adalah narasumber yang ditunggu-tunggu. Sang maestro kuliner berkisah tentang pengalamannya dalam menjelajah Indonesia dan juga mancanegara. “Saya percaya hukum input-output,” kata Bondan.</p>
<p>Tulisan (output) yang baik, kata pengampu acara ”Wisata Kuliner” di Trans TV ini, haruslah dibuat dari bahan (input) yang bagus pula. Membaca, mendengar musik, menonton film, dan jalan-jalan adalah bagian dari input. Bondan pun rajin menyimpan catatan, notes, setiap kali ’belanja’ atau memperbanyak input tulisan. ”Tumpukan notes itu saya simpan di rak toilet di rumah. Setiap kali saya mencari ilham tulisan, saya buka-buka lagi notes itu,” kata Bondan.</p>
<p>Hermien Y Kleden, Redaktur Eksekutif U Mag, majalah gaya hidup yang diterbitkan Grup Tempo, menyambung dengan materi teknis menulis feature. Tulisan feature, sering disebut dengan berita kisah, menuntut eksplorasi unsur ”why” dan ”how” secara mendalam.  Karena itu penulis harus mampu menyuguhkan dengan baik apa yang ada dalam kisah yang dituturkan. ”Kisah human interest amat cocok ditulis dalam bentuk feature,” kata Hermien.</p>
<p>Angle atau sudut pandang yang tajam adalah syarat membuat feature bagus. Begitu yang disampaikan M. Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo, dalam materi berikutnya. ”Angle ini yang menuntun si penulis untuk membuat tulisan yang fokus dan menarik,” kata Taufiq.</p>
<p>Tulisan feature juga sebaiknya didukung dengan foto yang mampu berbicara. Arie Basuki, fotografer Tempo, membagi pengalamannya tentang fotografi. Tak perlu kamera yang canggih dan mahal, kamera kacangan pun bisa menghasilkan foto yang bagus. ”Yang penting, jangan ragu mengambil sudut bidik yang tepat. Mendekatlah dengan sumber yang akan dipotret. Jangan takut mencoba berbagai angle,” kata Arie. Kapsion, teks keterangan foto yang mengandung unsur 5W + 1 H, mutlak dibutuhkan untuk menjadikan foto lebih mampu membawa cerita.</p>
<p>Lalu, tibalah saat praktek menulis. Angle, outline, dan cara menulis didiskusikan dengan interaktif. Ahmad Taufik, Qaris Tajudin, Martha Warta, dan Mardiyah Chamim bertugas sebagai mentor pendamping peserta. Workshop ini memang bukan semata berbagai teori, tapi yang lebih penting adalah latihan menulis. ”Kalau sekadar teori, mah, saya bisa baca buku,” kata Tiwin S. Herman, salah seorang peserta.</p>
<p>Pada ujung acara, satu demi satu peserta menyajikan hasil praktek. Maka, gairah menjelajah Indonesia tampil di sini. Tiwin, misalnya, menyajikan tulisan feature berjudul ”Oh&#8230;.Koteka” yang disarikan dari pengalaman Tiwin saat berkunjung ke Papua. ”Saya kaget dan juga penasaran, ingin tahu apa dan bagaimana koteka ini. Bukan isinya, lo,” kata Tiwin yang langsung disambut gemuruh tawa peserta.</p>
<p>Rizal Khadafi menulis tentang sekelompok anak muda penggemar puzzle Rubik’s Cube.  Henny Hariani menyajikan pengalaman saat berwisata backpacking Jakarta – Yogyakarta, bersama tiga anaknya, demi menikmati nyala kembang api di Candi Prambananan. Lalu, ada Anda Sapardan yang menikmati khazanah kuliner Indonesia dengan penuh kecintaan. ”Makan, bagi keluarga saya, bukan hanya pemuas lidah tapi juga memperkaya pengalaman,” kata Anda.</p>
<p>Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute, menutup workshop ini dengan mendorong peserta untuk terus menulis. Bukan hanya soal kuliner atau menjelajah daerah wisata, tapi berbagai aspek kehidupan di Indonesia. ”Mari menjelajah Indonesia, mari saling mengenal budaya, dan merayakan keragaman Indonesia,” katanya. (WHS-MCH)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2010/01/29/dua-hari-menjelajah-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Menulis Feature “Jelajah Indonesia”</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/12/24/pelatihan-menulis-feature-%e2%80%9cjelajah-indonesia%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/12/24/pelatihan-menulis-feature-%e2%80%9cjelajah-indonesia%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 11:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jelajah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan Menulis Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4272</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia Negeri yang kaya. Begitu luas, beragam, dan penuh warna. Jengkal demi jengkal negeri ini perlu ditulis dengan baik, mulai dari kekayaan kuliner, keindahan tempat, kondisi alam lingkungan, dinamika sosial masyarakat, sampai keseharian yang remeh tapi indah. Agar kian tumbuh rasa kritis, cinta, syukur, dan  kemauan untuk berkarya yang terbaik.
Pelatihan menulis feature ini dikemas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Indonesia </strong>Negeri yang kaya. Begitu luas, beragam, dan penuh warna. Jengkal demi jengkal negeri ini perlu ditulis dengan baik, mulai dari kekayaan kuliner, keindahan tempat, kondisi alam lingkungan, dinamika sosial masyarakat, sampai keseharian yang remeh tapi indah. Agar kian tumbuh rasa kritis, cinta, syukur, dan  kemauan untuk berkarya yang terbaik.</p>
<p>Pelatihan menulis feature ini dikemas dengan model interaktif, kaya praktek dalam waktu 2 hari, pukul 09:00 – 17:00.</p>
<p><strong>Waktu &amp; Tempat</strong></p>
<p>Senin &#8211; Selasa, 25-26 Januari 2010<br />
Auditorium Nurcholish Madjid,<br />
Universitas Paramadina,<br />
Jl. Gatot Subroto Kav. 97, Mampang, Jakarta 12790</p>
<p><strong>Peserta<br />
</strong>Wartawan, mahasiswa, praktisi humas, blogger, aktivis lembaga swadaya masyarakat, pekerja profesional, pelancong, petualang, penikmat kuliner, pendamping program di lapangan, peneliti, ibu rumah tangga, siapa pun yang ingin menuturkan pengalaman tentang Indonesia.</p>
<p><strong>Investasi</strong><br />
Rp. 1. 500.000,-</p>
<p>Peserta akan mendapat :  Modul Pelatihan, Pelatihan Kit, Souvenir, Sertifikat</p>
<p><strong>Materi pelatihan:</strong></p>
<ol>
<li>Menulis, Menjelajah Kekayaan Indonesia</li>
<li>Teknik menulis feature</li>
<li>Fotografi, menambah nilai tulisan</li>
<li>Menentukan Ide, angle dan outline</li>
<li>Praktek liputan dan menulis</li>
<li>Presentasi dan evaluasi</li>
</ol>
<p><strong>Narasumber</strong></p>
<ul>
<li>Bondan Winarno, wartawan senior, pengelola mailing list penggemar kuliner Jalansutra, presenter acara Kuliner Nusantara</li>
<li>Hermien Y Kleden, Deputi Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, Pemimpin Redaksi Majalah Gaya Hidup U Mag</li>
<li>M Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo</li>
<li>Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute</li>
<li>Arie Basuki, fotografer Tempo, pemenang berbagai penghargaan fotojurnalistik</li>
</ul>
<p><strong>Mentor</strong></p>
<ul>
<li> Qoris Tajuddin, Redaktur  Majalah Gaya Hidup U Mag</li>
<li> Achmad Taufik, Redaktur desk kesehatan Majalah Tempo</li>
<li> Martha Warta Silaban, wartawan Tempo</li>
</ul>
<p><strong>Fasilitator</strong><br />
Agung Banardono, Manajer Divisi Pelatihan Tempo Institute</p>
<p><strong>Penyelenggara<br />
</strong>Pelatihan ini diselenggarakan oleh Tempo Institute dan Universitas Paramadina</p>
<p>Informasi lebih lanjut hubungi :<br />
Agung	:	081 808 456 344<br />
Nur	:	081 587 094 94</p>
<p style="text-align: center;"><strong>SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA<br />
Tempat terbatas, hanya untuk 30 peserta</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Download:<br />
</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/12/form_DAFTAR.pdf">Form Pendaftaran</a></li>
<li><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/12/JADWAL-PELATIHAN.pdf">Jadwal Pelatihan</a></li>
</ul>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/12/24/pelatihan-menulis-feature-%e2%80%9cjelajah-indonesia%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koran Tempo, Penutupan Kompetisi Esai</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/28/dari-penutupan-kompetisi-esai/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/28/dari-penutupan-kompetisi-esai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 10:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kompetisi Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4268</guid>
		<description><![CDATA[Koran Tempo, 27 Oktober 2009
Sinema Media Strategis Kampanyekan Indonesia
JAKARTA&#8211;Sinema atau media visual seperti film merupakan media paling strategis untuk mengkampanyekan Indonesia saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Sidiq Maulana, pemenang pertama kompetisi esai yang diadakan oleh Tempo Institute, di Jakarta kemarin. Dalam kompetisi dengan tema besar “Nasionalisme ala Gue” itu, mahasiswa Universitas Indonesia itu menulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Koran Tempo, 27 Oktober 2009</p>
<p>Sinema Media Strategis Kampanyekan Indonesia</p>
<p>JAKARTA&#8211;Sinema atau media visual seperti film merupakan media paling strategis untuk mengkampanyekan Indonesia saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Sidiq Maulana, pemenang pertama kompetisi esai yang diadakan oleh Tempo Institute, di Jakarta kemarin. Dalam kompetisi dengan tema besar “Nasionalisme ala Gue” itu, mahasiswa Universitas Indonesia itu menulis esai bertajuk “Lepas Landas Kebudayaan Indonesia”.</p>
<p>&#8220;Tidak ada rumus baku, karena pemuda bisa berkontribusi melalui apa pun,&#8221; kata Sidiq saat penutupan kompetisi esai di gedung Usmar Ismail, Jakarta, kemarin. Sementara itu, gelar pemenang kedua dan ketiga diraih oleh Ainur Rohma dari Universitas Gadjah Mada dan Dzikri Abdisetia dari Universitas Terbuka Jember. Selain mendapat sebuah laptop, ketiganya mengantongi hadiah berupa uang.</p>
<p>Sebagai bentuk apresiasi, menurut Ketua Tempo Institute Mardiyah Chamim, ketiga pemenang bersama 17 penulis terbaik lainnya diajak untuk mengikuti kelas menulis selama tiga hari. Dalam kelas itu, mereka bisa mengemukakan pikiran, juga saling bertukar ide. &#8220;Melalui tulisan, anak-anak muda juga bisa mempengaruhi kebijakan publik, opini publik,” kata Mardiyah sembari menyebutkan ada 1.048 esai yang masuk ke panitia.</p>
<p>Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letnan Jenderal Bambang Darmono. Menurut dia, generasi muda bisa memberikan kontribusi kepada negara dalam bentuk apa pun, termasuk melalui tulisan. &#8220;Menjadi Indonesia dengan lebih kreatif sesuai dengan keahlian dan bidang masing-masing, termasuk melalui ide-ide yang dituangkan dalam tulisan,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam lingkup yang plural saat ini, kata Bambang, pemuda bisa menyalurkan pikiran dan kreativitas mereka dalam bentuk yang nyata. Misalnya, aktif di dunia seni, budaya, olahraga, dan bidang apa pun yang mereka minati, termasuk menulis. &#8220;Jadilah diri sendiri, generasi yang mampu tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;Melegakan karena hadir generasi-generasi baru yang terus menggelorakan keindonesiaan dengan konteks, tantangan, dan cirinya sendiri,&#8221; kata Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri di tempat yang sama.</p>
<p>MUNAWWAROH</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/28/dari-penutupan-kompetisi-esai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan Terbuka &#8220;Kongres Pemuda Generasi 2.0&#8243;</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/22/undangan-terbuka-kongres-pemuda-generasi-2-0/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/22/undangan-terbuka-kongres-pemuda-generasi-2-0/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 19:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kompetisi Esai]]></category>
		<category><![CDATA[undangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4259</guid>
		<description><![CDATA[Ingin kopi darat dengan para pemenang Kompetisi Esai “Menjadi Indonesia”? Ingin bertemu pada juri, berdiskusi dengan mentor, atau sekadar berbincang dengan awak Tempo Institute?
 
Ayo, mari bergabung dengan “Kongres Pemuda Generasi 2.0”. Ini adalah penutupan resmi Kompetisi Esai yang akan digelar pada Senin, 26 Oktober 2009, di Gedung PPHUI, Jl Rasuna Said Kav. C22, Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Ingin kopi darat dengan para pemenang Kompetisi Esai “Menjadi Indonesia”? Ingin bertemu pada juri, berdiskusi dengan mentor, atau sekadar berbincang dengan awak Tempo Institute?</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Ayo, mari bergabung dengan “Kongres Pemuda Generasi 2.0”. Ini adalah penutupan resmi Kompetisi Esai yang akan digelar pada Senin, 26 Oktober 2009, di Gedung PPHUI, Jl Rasuna Said Kav. C22, Jakarta Selatan. </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</em></strong></p>
<p>Telah lama berkumandang pendapat yang cenderung meremehkan pemuda. Mereka hampir selalu dituding malas membaca, segan menulis, apalagi berpikir serius tentang persoalan bangsa. Hura-hura, diseling tawuran, lekat dengan citra anak muda masa kini. Tudingan yang mungkin benar dan mungkin sekaligus keliru.
</p>
<p>Bekerjasama dengan Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa, Tempo Institute meluncurkan sebuah eksperimen serius tentang pemikiran anak muda. Kami ingin mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang Indonesia.
</p>
<p>Sebuah kompetisi digelar. Kami menantang mahasiswa untuk menulis dengan payung besar “Menjadi Indonesia”. Frasa ini menandai sebuah keyakinan bahwa berbangsa adalah sebuah proses yang terus bertumbuh. Anak muda, dalam konteks masa depan, adalah yang paling berhak memberi tafsir atas frasa “Menjadi Indonesia.”
</p>
<p>Akhir Juni 2009, Kompetisi Esai resmi diluncurkan. Tema besarnya adalah “Nasionalisme Ala Gue”. Sebuah poster yang cukup provokatif, didominasi warna oranye yang dinamis, disebar di 600 kampus di seluruh Indonesia. Kalimat utama dalam poster itu cukup menantang : “Kau, Di Tanganmu Masa Depan Bangsa”.
</p>
<p>Awalnya kami tak berharap terlalu banyak. Dua ratus naskah masuk sudah membuat hati bungah. Ini kompetisi esai, <em>Bung</em>. Bukan kontes menyanyi atau adu panco.
</p>
<p>Tenggat tiba, 30 September 2009. Tanpa kami duga, 998 mahasiswa dari 205 perguruan tinggi yang tersebar di 65 kota, 27 propinsi, menjawab tantangan kami. Seorang mahasiswa yang belajar di Kairo, Mesir, dan satu mahasiswa di Australia turut ambil bagian. Total jenderal, tercatat 1.048 naskah esai, 31 naskah di antaranya datang melampaui tenggat sehingga tak bisa diikutkan dalam proses berikutnya.
</p>
<p>Seribu lebih naskah itu adalah kehormatan bagi kami. Sebuah bentuk kepercayaan dari kaum muda bahwa kompetisi ini layak menjadi kanal bagi pemikiran mereka. Seorang peserta yang menuliskan catatan kepada panitia: “Terimakasih. Kompetisi ini bukan sekadar lomba, tapi sarana bagi mahasiswa untuk berkontribusi kepada bangsa.”
</p>
<p>Lebih dari sekadar angka, seribu lebih naskah esai itu adalah mozaik pemikiran anak muda yang teramat mutakhir. Ada kemarahan, kejengkelan, juga frustrasi atas kondisi Indonesia yang babak-belur di berbagai level. Tapi, dalam seribu lebih naskah itu juga tersirat tebal rasa cinta, harapan, dan gagasan untuk memperbaiki situasi. Mereka memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan.
</p>
<p>Dan, tanpa kami sadari, kompetisi esai ini adalah bentuk kongres pemuda gaya baru. Sebuah kongres pemuda di zaman teknologi internet 2.0 yang memungkinkan setiap orang bertukar tangkap gagasan dengan lebih lepas.
</p>
<p>28 Oktober 1928, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan ratusan utusan pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Kramat Raya. Mereka membuhulkan tekad satu bahasa, satu nusa, dan satu bangsa: Indonesia.
</p>
<p>Zaman boleh berganti. Syukurlah, dalam skala lain, spirit tetap terjaga. Kini, seribu pemuda di seluruh penjuru Indonesia juga berkongres secara virtual. Mereka membulatkan tekad untuk Indonesia yang lebih baik.
</p>
<p>Kompetisi ini akan resmi ditutup pada Senin, 26 Oktober 2009, di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta. Rincian acara adalah sebagai berikut:</p>
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="4" width="450">
<tbody>
<tr>
<td width="106" valign="bottom"><strong>Waktu </strong></td>
<td width="471" valign="bottom"><strong>ACARA </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom"></td>
<td width="471" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">09.30 &#8211; 10.00</td>
<td width="471" valign="bottom">Registrasi</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">10.00 &#8211; 10.30</td>
<td width="471" valign="bottom">Pembukaan dan sambutan :</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom"></td>
<td width="471" valign="bottom">1. Bambang   Harymurti / Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom"></td>
<td width="471" valign="bottom">2. Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Bambang   Darmono</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="top">10.30 &#8211; 10.45</td>
<td width="471" valign="bottom">Rektor     Universitas Indonesia Prof. Dr. Gumilar Rusliwa   Somantri : “Nasionalisme Generasi  2.0”</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">10.45 &#8211; 11.00</td>
<td width="471" valign="bottom">Pemutaran film pendek &#8220;Menjadi Indonesia&#8221;</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="top">11.00 &#8211; 11.15</td>
<td width="471" valign="bottom">Teresia E.E. Pardede, penyanyi, anggota Dewan Perwakilan   Rakyat, dengan tema  : Mendengar Anak   Muda Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">11.15 &#8211; 11.45</td>
<td width="471" valign="bottom">Pembagian   hadiah untuk para pemenang kompetisi esai</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">11.45 &#8211; 12.15</td>
<td width="471" valign="bottom">Band Efek Rumah Kaca</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="bottom">12.15 – selesai</td>
<td width="471" valign="bottom">Makan siang</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/22/undangan-terbuka-kongres-pemuda-generasi-2-0/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dari Proklamasi&#8230;.</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/16/surat-dari-proklamasi/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/16/surat-dari-proklamasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 08:12:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kompetisi Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4254</guid>
		<description><![CDATA[ Seribu lebih naskah, persisnya 1.048, sama sekali bukan angka yang sedikit. Seribu lebih naskah itu datang dari seluruh penjuru negeri.  Cemas, marah, renungan, gagasan, rasa cinta, juga harapan akan masa depan Indonesia tertumpah dalam seribu lebih naskah esai itu.  
 Bagi kami, panitia Kompetisi Esai Mahasiswa 2009 “Menjadi Indonesia”, seribu lebih naskah ini adalah sebuah kehormatan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong>Seribu lebih naskah, persisnya 1.048, sama sekali bukan angka yang sedikit. Seribu lebih naskah itu datang dari seluruh penjuru negeri.  Cemas, marah, renungan, gagasan, rasa cinta, juga harapan akan masa depan Indonesia tertumpah dalam seribu lebih naskah esai itu.  </p>
<p> Bagi kami, panitia Kompetisi Esai Mahasiswa 2009 “Menjadi Indonesia”, seribu lebih naskah ini adalah sebuah kehormatan. Kepada seluruh peserta, juga para mentor, para juri, juga barisan panitia, kami ucapkan terimakasih telah ikut terlibat dalam kerja besar mengumpulkan mozaik pemikiran anak muda tentang persoalan kebangsaan ini.  </p>
<p> Awalnya, kami menduga peserta tak lebih dari 300-an. “Minat baca-tulis mahasiswa zaman sekarang, kan, rendah,” begitu kata seorang kawan. Ada lagi yang berkomentar, “Mestinya bikin kompetisi membuat lagu saja, pasti pesertanya ribuan.”</p>
<p> Ternyata, semua dugaan skeptik itu tidak terbukti. Hari-hari terakhir menjelang tenggat, ratusan naskah membanjiri keranjang surat elektronik panitia. Lumayan repot juga menggunduh naskah yang membanjir di saat-saat akhir. “Deg-degan,” kata Agung Banardono, staf Tempo Institute yang bertugas mengawal tim seleksi naskah.</p>
<p> Jantung panitia semakin kencang berdebar manakala gardu listrik Cawang, JakatSUaTerutama karena pada 29 September 2009, gardu induk Perusahaan Listrik Negara di Cawang, Jakarta Timur, terbakar. Aliran listrik di berbagai wilayah Jakarta mati, termasuk di bengkel kerja Tempo Institute, Jalan Haji Abu 23, Cipete, Jakarta Selatan. Jaringan internet tak berfungsi. Naskah yang membanjir tak bisa diunduh. Daftar nama peserta tak mungkin pula diperbarui.</p>
<p> Pada saat yang sama, peserta gencar menanyakan nasib naskah yang mereka kirim kepada panitia. Telepon, pesan pendek, surat elektronik, juga komentar di website Tempo Institute berseliweran. “Rasanya mau ngilang dulu, deh,” begitu celetuk Ikhwan Al-Huda, anggota panitia, yang bertugas menjaga lalu-lintas naskah masuk.  </p>
<p> Aliran listrik belum juga normal sampai berhari-hari kemudian. Proses mengunduh naskah dan perbaruan data peserta baru bisa tuntas pada 3 Oktober 2009. Itu pun masih jauh dari sempurna. Keluhan datang dari beberapa peserta yang merasa mengirim naskah sebelum tenggat. Koreksi dan koreksi pun dilakukan.  “Naskah yang masuk melampaui tenggat tidak kami toleransi. Kasihan, dong, peserta lain yang bekerja keras memenuhi deadline,” kata Agung.</p>
<p> Paralel dengan kerja mengunduh naskah, tim yang dipimpin Agung juga mengerjakan seleksi naskah. Sepuluh orang dilibatkan dalam menyaring naskah pada tahap pertama. Tim awal inilah yang menyaring naskah sampai menjadi 100 naskah terbaik yang siap dipilih Dewan Juri. “Nggak bisa sekilas baca naskahnya, harus pelan-pelan,” kata Eko Kurniawan, salah satu anggota tim penyeleksi tahap awal.</p>
<p> Pada 3 Oktober, seratus naskah hasil seleksi tim awal siap melaju menuju tahap berikutnya. Dewan Juri, terdiri dari Syafiq Basri Assegaf (Universitas Paramadina), Marianus Kleden (cendekiawan dari Flores), Cok Sawitri (penulis, Bali), Damayanti Buchori (peneliti IPB, Bogor), Budi S. Tanuwibowo (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), Idrus F. Shahab (Redaktur Pelaksana Tempo), dan LR. Baskoro (Redaktur Pelaksana Tempo) siap mengayunkan pena seleksi.</p>
<p> Proses penjurian awalnya diharapkan berakhir pada 9 Oktober. Namun, para juri merasa keberatan dan meminta perpanjangan waktu. Maka, demi menjaga kualitas penilaian, penjurian diperpanjang sampai 12 Oktober 2009.</p>
<p> Dan, tibalah sore yang bersejarah itu. Empat anggota Dewan Juri (Syafiq Basri, Budi S. Tanuwibowo, Idrus F. Shahab, dan LR. Baskoro) bersidang di kantor Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72, Jakarta Pusat. Tiga juri yang lain tidak bisa hadir dan menitipkan penilaian mereka kepada panitia. Sidang dibuka oleh Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, dan dihadiri juga oleh beberapa redaktur majalah ini.</p>
<p> Tiga jam sidang berlangsung. Beberapa metodologi pemeringkatan dijajal demi mendapat tiga pemenang. Debat alot sesekali mewarnai sidang, terutama saat menimbang mana yang lebih penting: kualitas tulisan atau kualitas gagasan. Tentu saja debat tak berpanjang-panjang karena panitia sejak awal sudah menentukan garis, bahwa yang dipentingkan adalah kualitas gagasan. Kutipan pendapat Dewan Juri akan di-posting dalam tulisan terpisah.  </p>
<p> Pukul delapan malam. Sidang berakhir. Palu telah diketok, Dewan Juri telah memutuskan para pemenang. Satu tahap penting telah dilalui. Selamat kami ucapkan kepada para pemenang.</p>
<p> Buat seluruh peserta, kami ucapkan selamat berkarya. Lebih dari sekadar menang dan kalah, seribu lebih esai yang telah terangkum adalah energi bagi Indonesia yang lebih baik.</p>
<p> </p>
<p>Salam.</p>
<p>Mardiyah Chamim,</p>
<p>Direktur Tempo Institute</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/16/surat-dari-proklamasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Acara Penjurian Kompetisi Esai Mahasiswa 2009</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/berita-acara-kompetisi-esai-mahasiswa-2009/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/berita-acara-kompetisi-esai-mahasiswa-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 07:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Info Kompetisi Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Kompetisi Esai 2009]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4229</guid>
		<description><![CDATA[Kompetisi Esai 2009 “Menjadi Indonesia” dengan tema “Nasionalisme Ala Gue” telah resmi berakhir.
Terkait dengan berakhirnya kompetisi, Dewan Juri telah bersidang pada 12 Oktober 2009 di Jakarta. Tempo Institute bersama Sekjen Wantanas dan Perhimpunan Inti telah melakukan penjurian untuk menentukan:

Tiga pemenang Kompetisi Esai dengan nama-nama sebagai berikut :










1
Sidiq Maulana Muda
Ekspansi Budaya: Lepas Landas Kebudayaan Indonesia


2
Ainur Rohmah
Mempertahankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompetisi Esai 2009 “Menjadi Indonesia” dengan tema “Nasionalisme Ala Gue” telah resmi berakhir.</p>
<p>Terkait dengan berakhirnya kompetisi, Dewan Juri telah bersidang pada 12 Oktober 2009 di Jakarta. Tempo Institute bersama Sekjen Wantanas dan Perhimpunan Inti telah melakukan penjurian untuk menentukan:</p>
<ul>
<li>Tiga pemenang Kompetisi Esai dengan nama-nama sebagai berikut :</li>
</ul>
<p><!--   		BODY,DIV,TABLE,THEAD,TBODY,TFOOT,TR,TH,TD,P { font-family:"Arial"; font-size:x-small } --></p>
<table border="0" cellspacing="0" frame="void" rules="none">
<colgroup span="1">
<col span="1" width="34"></col>
<col span="1" width="260"></col>
<col span="1" width="401"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="34" height="17" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">1</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="260" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Sidiq Maulana Muda</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="401" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Sidiq-Maulana-Muda-_-Ekspansi-Budaya-Lepas-Landas-Kebudayaan-Indonesia.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Sidiq-Maulana-Muda-_-Ekspansi-Budaya-Lepas-Landas-Kebudayaan-Indonesia.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ekspansi Budaya: Lepas Landas Kebudayaan Indonesia</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="17" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">2</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ainur Rohmah</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ainur-Rohmah-_-Mempertahankan-”Menjadi-Indonesia”-di-Pondok-Pesantren.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ainur-Rohmah-_-Mempertahankan-”Menjadi-Indonesia”-di-Pondok-Pesantren.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Mempertahankan ”Menjadi Indonesia” di Pondok Pesantren</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="17" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">3</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Dzikri Abdisetia</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Dzikri-Abdisetia-_-Ketika-Dynand-Tak-Bangga-pada-Kotanya.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Dzikri-Abdisetia-_-Ketika-Dynand-Tak-Bangga-pada-Kotanya.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ketika Dynand Tak Bangga Pada Kotanya</span></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li>17 peserta terbaik Kompetisi Esai dengan nama-nama sebagai berikut :</li>
</ul>
<p><!--   		BODY,DIV,TABLE,THEAD,TBODY,TFOOT,TR,TH,TD,P { font-family:"Arial"; font-size:x-small } --></p>
<table border="0" cellspacing="0" frame="void" rules="none">
<colgroup span="1">
<col span="1" width="34"></col>
<col span="1" width="260"></col>
<col span="1" width="401"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="34" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">1</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="260" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ayos Purwoaji</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" width="401" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ayos-Purwoaji-_-Kupu-Kupu-dari-Papua.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ayos-Purwoaji-_-Kupu-Kupu-dari-Papua.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Kupu-Kupu dari Papua</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">2</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Arif Kurniar Rakhman</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Arif-Kurniar-Rahman-_-Menjadi-Indonesia-dengan-Jimpitan.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Arif-Kurniar-Rahman-_-Menjadi-Indonesia-dengan-Jimpitan.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Menjadi Indonesia dengan Jimpitan</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">3</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ni Made Purnamasari </span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ni-Made-Purnamasari-_-Bali-di-Simpang-Identitas.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ni-Made-Purnamasari-_-Bali-di-Simpang-Identitas.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Bali di Simpang Identitas</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">4</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Veri Nurhansyah Tragistina</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Veri-Nurhansyah-Tragistina-_-Nasionalisme-2.0.-Kontribusi-Generasi-Digital-dalam-Menabur-Benih-Nasionalisme-Konsumen-Indonesia.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Veri-Nurhansyah-Tragistina-_-Nasionalisme-2.0.-Kontribusi-Generasi-Digital-dalam-Menabur-Benih-Nasionalisme-Konsumen-Indonesia.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Nasionalisme 2.0., Kontribusi Generasi Digital dalam Menabur Benih Nasionalisme Konsumen Indonesia</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">5</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Fakhri Zakaria</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Fakhri-Zakaria-_-Nasionalisme-Asyik-Lewat-Musik.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Fakhri-Zakaria-_-Nasionalisme-Asyik-Lewat-Musik.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Nasionalisme Asyik Lewat Musik</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">6</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Fathan Mubarak</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Fathan-Mubarak-_-Menyejarahkan-Kembali-Nasionalisme-Kita.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Fathan-Mubarak-_-Menyejarahkan-Kembali-Nasionalisme-Kita.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Menyejarahkan Kembali Nasionalisme Kita</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">7</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Firdos Putra Aditama</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Firdos-Putra-A.-_-“Menjadi-Indonesia”-Bersama-Masyarakat.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Firdos-Putra-A.-_-“Menjadi-Indonesia”-Bersama-Masyarakat.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">“Menjadi Indonesia” Bersama Masyarakat</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">8</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Ach. Nurcholis Majid</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ach.-Nurcholis-Madjid-_-Belajar-dari-Jhermudi-dan-Nasionalisme-Etnis_-Sebuah-Cerminan-Hidup-Pemimpin-Masa-Depan.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Ach.-Nurcholis-Madjid-_-Belajar-dari-Jhermudi-dan-Nasionalisme-Etnis_-Sebuah-Cerminan-Hidup-Pemimpin-Masa-Depan.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Belajar dari Jhermudi dan Nasionalisme Etnis; Sebuah Cerminan Hidup Pemimpin Masa Depan</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">9</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Jati Nantiasa Ahmad</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Jati-Nantiasa-Ahmad-_-Mengintip-kebudayaan-Indonesia-lewat-celah-Psikologi.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Jati-Nantiasa-Ahmad-_-Mengintip-kebudayaan-Indonesia-lewat-celah-Psikologi.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Mengintip Kebudayaan Indonesia Lewat Celah Psikologi</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">10</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Muhammad Imam Nasef</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/M.Imam-Nasef-_-Tunjukkan-Rasa-Nasionalisme-Lindungi-Kebudayaan-Tradisional.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/M.Imam-Nasef-_-Tunjukkan-Rasa-Nasionalisme-Lindungi-Kebudayaan-Tradisional.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Tunjukkan Rasa Nasionalisme, Lindungi Kebudayaan Tradisional !</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">11</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Prima Sulistya Wardhani</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Prima-Sulistya-Wardhani-_-Diaspora-dan-Surat-Kartini.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Prima-Sulistya-Wardhani-_-Diaspora-dan-Surat-Kartini.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Diaspora dan Surat Kartini</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">12</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Irfa Ronaboyd</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Irfa-Ronaboyd-_-Hari-Budaya-Nusantara-Sebagai-Nation-Building-Character-Building-Dan-Inventarisasi-Budaya.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Irfa-Ronaboyd-_-Hari-Budaya-Nusantara-Sebagai-Nation-Building-Character-Building-Dan-Inventarisasi-Budaya.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Hari Budaya Nusantara Sebagai Nation Building, Character Building, dan Inventarisasi Budaya</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">13</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Michaelino Mervisiano</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Michaelino-Mervisiano-_-Revitalisasi-Kepemimpinan-Nasional.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Michaelino-Mervisiano-_-Revitalisasi-Kepemimpinan-Nasional.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Revitalisasi Kepemimpinan Nasional: Sebuah Alternatif Pendekatan</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">14</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Nana Riskhi Susanti</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Nana-Riskhi-Susanti-_-Wanurejo-“The-Sense-Of-Java”-Sebuah-Model-Pengembangan-Desa-Wisata-di-Indonesia.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Nana-Riskhi-Susanti-_-Wanurejo-“The-Sense-Of-Java”-Sebuah-Model-Pengembangan-Desa-Wisata-di-Indonesia.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Wanurejo, “The Sense of Java”</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="38" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">15</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Islahuddin</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Islahuddin-_-Kelola-TKI-Gerakkan-Ekonomi-Kelokalan-Studi-Kasus-di-Kabupaten-Lombok-Timur-NTB.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Islahuddin-_-Kelola-TKI-Gerakkan-Ekonomi-Kelokalan-Studi-Kasus-di-Kabupaten-Lombok-Timur-NTB.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Kelola TKI, Gerakkan Ekonomi Kelokalan Studi Kasus Di Kabupaten Lombok Timur NTB</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="56" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">16</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Goklas M H T</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Goklas-M-H-T-_-Indonesia-untuk-Semua_-Membangun-Bangsa-yang-Adil-dan-Mandiri-dengan-Lebih-Peduli-Kepada-Kaum-Difabel.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Goklas-M-H-T-_-Indonesia-untuk-Semua_-Membangun-Bangsa-yang-Adil-dan-Mandiri-dengan-Lebih-Peduli-Kepada-Kaum-Difabel.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Indonesia untuk Semua: Membangun Bangsa yang Adil Dan Mandiri dengan (Lebih) Peduli kepada Kaum Difabel</span></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="border: 1px solid #000000;" height="20" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">17</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Dea Melina</span></td>
<td style="border: 1px solid #000000;" align="JUSTIFY"><a title="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Dea-Melina-_-Menuju-Indonesia-Mandiri.pdf" href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Dea-Melina-_-Menuju-Indonesia-Mandiri.pdf"><span style="font-family: Georgia; font-size: small;">Menuju Indonesia Mandiri</span></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">Ke-20 peserta tersebut akan mengikuti kemah menulis yang akan diselenggarakan di Wisma Tempo Sirnagalih, Megamendung, pada 22-27 Oktober 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/berita-acara-kompetisi-esai-mahasiswa-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Sang Pemenang</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/mereka-sang-pemenang/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/mereka-sang-pemenang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 17:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kompetisi Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman Pemenang Kompetisi Esai Mahasiswa 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4225</guid>
		<description><![CDATA[Kompetisi Esai 2009 “Menjadi Indonesia” dengan tema “Nasionalisme Ala Gue” telah resmi berakhir.
Selama kurun waktu 24 Juni—30 Oktober 2009, telah terkumpul 1081 naskah dari 998 mahasiswa 207 perguruan tinggi yang tersebar di 65 kota di Indonesia dan 1 perguruan tinggi di Australia.
Terkait dengan berakhirnya kompetisi, Dewan Juri telah bersidang pada 12 Oktober 2009 di Jakarta.
Dewan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompetisi Esai 2009 “Menjadi Indonesia” dengan tema “Nasionalisme Ala Gue” telah resmi berakhir.</p>
<p>Selama kurun waktu 24 Juni—30 Oktober 2009, telah terkumpul 1081 naskah dari 998 mahasiswa 207 perguruan tinggi yang tersebar di 65 kota di Indonesia dan 1 perguruan tinggi di Australia.</p>
<p>Terkait dengan berakhirnya kompetisi, Dewan Juri telah bersidang pada 12 Oktober 2009 di Jakarta.</p>
<p>Dewan Juri terdiri dari: Idrus F. Shahab (Redaktur Pelaksana Tempo), LR Baskoro (Redaktur Pelaksana Tempo), Damayanti Buchori (peneliti IPB), Syafiq Basri Assegaf (Universitas Paramadina), Marianus Kleden (tokoh cendekiawan Flores), Cok Sawitri (penulis, Bali), dan Budi S. Tanuwibowo (INTI, aktivis Dialog antar-Iman).</p>
<p>Dewan Juri telah memutuskan tiga pemenang untuk kompetisi ini, yaitu:</p>
<ol>
<li> Juara I: <strong>Sidiq Maulana Muda</strong>, Universitas Indonesia, Jakarta, dengan judul esai <em>Ekspansi Budaya: Lepas Landas Kebudayaan Indonesia</em>, berhak atas laptop dan uang senilai Rp 6.000.000</li>
<li> Juara II: <strong>Ainur Rohmah</strong>, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan judul esai <em>Mempertahankan “Menjadi Indonesia” di Pondok Pesantren</em>, berhak atas laptop dan uang senilai Rp 4.000.000</li>
<li>Juara III: <strong>Dzikri Abdisetia</strong>, Universitas Terbuka Jember, Jember, dengan judul esai <em>Ketika Dynand Tak Bangga pada Kotanya</em>, berhak atas laptop dan uang senilai Rp 2.000.000</li>
</ol>
<p>Bersama  ketiga juara tersebut, Dewan Juri juga telah memilih 17 peserta terbaik untuk diikutsertakan dalam kemah menulis di Wisma Tempo Sirnagalih, Megamendung, Jawa Barat, pada 22—27 Oktober 2009. Mereka adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Ayos Purwoaji</strong>, Institut Teknologi Surabaya, dengan judul esai <em>Kupu-Kupu dari Papua</em>.</li>
<li><strong>Arif Kurniar Rakhman</strong>, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan judul esai <em>Menjadi Indonesia dengan Jimpitan</em>.</li>
<li><strong>Ni Made Purnamasari</strong>, Universitas Udayana, Denpasar, dengan judul esai <em>Bali di Simpang Identitas</em>.</li>
<li><strong>Veri Nurhansyah Tragistina</strong>, Universitas Indonesia, Jakarta, dengan judul esai <em>Nasionalisme 2.0., Kontribusi Generasi Digital dalam Menabur Benih Nasionalisme Konsumen Indonesia</em>.</li>
<li><strong>Fakhri Zakaria</strong>, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dengan judul esai <em>Nasionalisme Asyik Lewat Musik</em>.</li>
<li><strong>Fathan Mubarak</strong>, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, dengan judul esai <em>Menyejarahkan Kembali Nasionalisme Kita</em>.</li>
<li><strong>Firdos Putra Aditama</strong>, Universitas Soedirman, Purwokerto, dengan judul esai <em>“Menjadi Indonesia” Bersama Masyarakat</em>.</li>
<li><strong>Ach. Nurcholis Majid</strong>, Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), Sumenep, dengan judul esai <em>Belajar dari Jhermudi dan Nasionalisme Etnis; Sebuah Cerminan Hidup Pemimpin Masa Depan</em>.</li>
<li><strong>Jati Nantiasa Ahmad</strong>, Universitas Indonesia, Jakarta, dengan judul esai <em>Mengintip Kebudayaan Indonesia Lewat Celah Psikologi</em>.</li>
<li><strong>Muhammad Imam Nasef</strong>, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, dengan judul esai <em>Tunjukkan Rasa Nasionalisme, Lindungi Kebudayaan Tradisional!</em></li>
<li><strong>Prima Sulistya Wardhani</strong>, Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul esai <em>Diaspora dan Surat Kartini</em>.</li>
<li><strong>Irfa Ronaboyd</strong>, Universitas Trunojoyo, Madura, dengan judul esai <em>Hari Budaya Nusantara Sebagai Nation Building, Character Building, dan Inventarisasi Budaya.</em></li>
<li><strong>Michaelino Mervisiano</strong>, Universitas Indonesia, Jakarta, dengan judul esai <em>Revitalisasi Kepemimpinan Nasional: Sebuah Alternatif Pendekatan</em>.</li>
<li><strong>Nana Riskhi Susanti</strong>, Universitas Negeri Semarang, dengan judul esai <em>Wanurejo, “The Sense of Java”</em>.</li>
<li><strong>Islahuddin</strong>, Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul esai <em>Kelola TKI, Gerakkan Ekonomi Kelokalan, Studi Kasus di Kabupaten Lombok Timur NTB</em>.</li>
<li><strong>Goklas M H T</strong>, Institut Teknologi Bandung, dengan judul esai <em>Indonesia untuk Semua: Membangun Bangsa yang Adil dan Mandiri dengan (Lebih) Peduli kepada Kaum Difabel</em>.</li>
<li><strong>Dea Melina</strong>, Universitas Padjadjaran Bandung, dengan judul esai <em>Menuju Indonesia Mandiri</em>.</li>
</ol>
<p>Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat.</p>
<p>Panitia akan segera menghubungi nama-nama tersebut di atas untuk koordinasi lebih lanjut.</p>
<p>Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi.</p>
<p>Lebih dari sekadar menang atau kalah, kompetisi ini adalah kontribusi orang muda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.</p>
<p>Tertanda,</p>
<p>PANITIA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/10/13/mereka-sang-pemenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
