<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tempo Institute &#187; Materi</title>
	<atom:link href="http://www.tempo-institute.org/index.php/topik/materi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tempo-institute.org</link>
	<description>Center of Excellent Institute</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 03:15:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>News Feature</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/11/news-feature/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/11/news-feature/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 13:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4125</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M. Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo.Disampaikan pada “Pelatihan Menulis Feature”, Tempo Institute, di Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 8 Agustus 2009.
 
 
News Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Oleh : M. Taufiqurohman, Redaktur Pelaksana Majalah Tempo.Disampaikan pada “Pelatihan Menulis Feature”, Tempo Institute, di Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 8 Agustus 2009.</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>News Feature</em> bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.</p>
<p>Penulisan <em>feature</em> tidaklah mudah. Untuk menulis <em>straight news</em>, kita tak perlu bersusah-susah menyusunnya. Urutannya jelas akan dimulai dari yang paling baru atau yang paling penting. Makin ke bawah, makin tidak penting. Unsurnya juga hanya 5 W + 1 H. <em>Lead</em> (pembuka berita) juga biasanya dimulai dari orang atau belakangan mulai banyak media yang menulis dengan <em>lead</em> kesimpulan.</p>
<p>Tapi, <em>news feature</em> harus lebih dari itu. Unsur 5 W + 1 H tetap harus ada karena itu unsur paling penting dari sebuh berita. Yang membedakannya adalah yang disebut unsur <em>story behind the news </em>dan atau <em>background story</em>. Kisah-kisah latar belakang, cerita-cerita tentang pertemuan-pertemuan di balik sebuah berita, misalnya, sangat penting untuk digali. (Kisah Rani dalam pembunuhan Nasrudin, misalnya. Setelah digali lebih mendalam, ada banyak masalah besar seperti korupsi di Rajawali Nusantara Indonesia. Juga kaitannya dengan sebuah kelompok pembunuh bayaran, dst.)</p>
<p>Ada beberapa unsur News Feature yang akan menentukan keberhasilan penulisannya, yakni :</p>
<ol>
<li><em>angle</em> atau sudut pandang yang tajam dan ketat,</li>
<li>struktur dan alur berkisah (plot)      yang lancar,</li>
<li>konteks,</li>
<li>fokus.</li>
</ol>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Angle yang ketat</span></strong><strong> </strong>merupakan prasyarat pertama untuk bisa menulis <em>news feature</em> yang bagus. Ini seperti kita memotret suatu peristiwa melalui sebuah kamera: apakah dari depan, dari samping, atau kita fokus saja pada sesuatu yang menurut kita paling menarik (sekumpulan orang, atau kejadian: orang mengantuk dalam sidang DPR, kerumunan di sekitar pedagang pada saat kampanye, dst), atau kita fokus pada orang-orang paling penting dalam sebuah acara.</p>
<p>Sama halnya dalam penulisan <em>news feature</em>, <em>angle</em> juga sangat penting. <em>Angle</em> yang tajam akan menentukan keberhasilan penulisan <em>news feature</em>. Angle yang tajam akan membuat kita fokus dalam mencari nara sumber, menggali bahan, dan kemudian mendalaminya. Ingat, kita tidak berburu di hutan tanpa tahu hewan apa yang ada di hutan itu.</p>
<p>Ciri lain yang juga sangat penting adalah cara menuliskannya. <em>News Feature</em> menuntut kita menulis dalam bentuk bertutur. Dalam penulisan feature, penting untuk menentukan siapa saja “tokoh” dalam berita itu, bagaimana perjalanan kisahnya, kapan cerita itu dimulai, dan bagaimana akhirnya. Juga harus diperhatikan klimaksnya. Selain itu, bahasa yang digunakan harus menarik dan tangkas (manfaatkan sebanyak mungkin peribahasa, joke, anekdot, gaya bahasa, dst).</p>
<p>Karena itu, dalam <em>news feature</em>, <strong><span style="text-decoration: underline;">struktur dan alur penulisan</span> </strong>menjadi sesuatu yang sangat penting. Apakah kita akan menuliskannya secara kronologis, atau kilas balik. Kronologis artinya peristiwa diurutkan dari awal hingga akhir. Ini alur yang paling mudah dibuat, tapi memiliki kelemahan: tidak banyak ada kejutan, kalau bahasanya tidak tangkas menjadi tidak menarik. Sebaliknya kilas balik dimulai dari yang terkini, baru mundur ke belakang.</p>
<p>Selain itu, bisa juga kita membuat alur yang sifatnya konvergen atau divergen. Dari banyak peristiwa yang seolah-olah terpisah, kemudian disatukan di ujung sebagai sebuah kisah yang punya pertalian sama.</p>
<p>Sebaliknya, strukur divergen akan membuat cerita dari satu peristiwa kemudian menyebar menjadi berbagai kisah. Intinya adalah plot. Gaya ini sebetulnya diadopsi dari gaya penulisan fiksi. (Misalnya: kita menulis soal pengendalian dampak tembakau. Kita menuliskan kasus-kasus di Jakarta, lalu Bogor, dan Palembang. Lalu, di ujung, kita baru bicara tentang masih susahnya DPR meloloskan RUU Pengendalian Dampak Tembakau)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Konteks</span></strong><strong> </strong>juga penting. Dengan konteks kita memberikan pemahaman kepada para pembaca alasan kita menulis suatu cerita. Apalagi, jika cerita itu tidak ada <em>newspeg</em>-nya (cantelan berita). Di dalamnya ada soal apa pentingnya cerita itu buat pembaca (mengapa kita memilih cerita tentang kecelakaan kereta di Bogor sebagai <em>headline</em> dan bukan soal mbah Surip yang belum menerima royalti)  atau mengapa mereka harus membaca tulisan itu.</p>
<p>Konteks bentuknya bisa bermacam-macam: alasan waktu (kita menulis kisah seorang pejuang untuk memperingati hari pahlawan atau hari kemerdekaan dll.), alasan <em>magnitude</em> (korban rokok sudah begitu banyak: berapa tingkat kematian akibat paru-paru atau kanker, dst), alasan kekinian atau <em>newspeg</em> (tentang kisruh penentuan kursi di DPR, misalnya), atau bisa juga karena alasan kepentingan publik (soal korupsi, pandemi flu babi, dst).</p>
<p>Yang terakhir tentu saja soal <strong><span style="text-decoration: underline;">fokus</span>.</strong> Inilah salah satu cara kita membuat pagar agar tulisan tidak lari ke kanan atau ke kiri (zig-zag), juga supaya tidak ngelantur ke mana-mana. Setiap tulisan <em>feature</em> harus fokus pada masalah dan <em>angle</em> yang sudah ditetapkan. Jika ada bahan menarik yang dibuang sayang, buatlah boks (tulisan pendukung).</p>
<p>Bahan ini sekadar alat untuk membantu Anda menulis. Sesungguhnyalah, yang membantu Anda liha menulis news feature adalah latihan. Semakin sering berlatih, Anda akan semakin lancar.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> ****</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/11/news-feature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peliputan Mendalam (Investigative Reporting)</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/08/peliputan-mendalam-investigative-reporting/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/08/peliputan-mendalam-investigative-reporting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 22:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>
		<category><![CDATA[Laporan investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Peliputan Mendalam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4110</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Daru Priyambodo, Redaktur Pelaksana Tempo News Room

Laporan investigasi memang bukan berita “hard-news” biasa seperti sering kita lihat di halaman depan koran-koran. Laporan investigasi berisi pendalaman (indepth) atas suatu fakta, peristiwa. Ia tidak terlalu terikat oleh deadline, bahkan ia tidak terlalu tergantung pada newspeg (momentum) suatu peristiwa.
Itu berarti, investigasi memiliki beberapa “kemewahan” yang tidak dimiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Daru Priyambodo, Redaktur Pelaksana <em>Tempo News Room<br />
</em></strong></p>
<p><em></em>Laporan investigasi memang bukan berita “hard-news” biasa seperti sering kita lihat di halaman depan koran-koran. Laporan investigasi berisi pendalaman (indepth) atas suatu fakta, peristiwa. Ia tidak terlalu terikat oleh deadline, bahkan ia tidak terlalu tergantung pada newspeg (momentum) suatu peristiwa.</p>
<p>Itu berarti, investigasi memiliki beberapa “kemewahan” yang tidak dimiliki oleh berita hardnews biasa. Karena tidak terikat deadline, maka investigasi bisa ditulis secara lebih leluasa. Tapi “kemewahan” ini harus ditebus dengan sesuatu yang tidak mudah: investigasi harus kaya dengan data, fakta, dan temuan-temuan baru!</p>
<p>Mengapa investigasi dibutuhkan? Karena selalu ada kebohongan dan itu harus dibongkar demi kepentingan publik! Kebohongan bisa tersebar di mana-mana. Bisa berasal dari pejabat yang melaporkan keberhasilan program departemennya; dari perusahaan X yang melaporkan betapa aman produknya bagi masyarakat; dari tokoh politik yang mengaku mendapat hibah dalam daftar harganya; dari sekolah yang diam-diam memberi ajaran sesat pada anak muridnya. Pendek kata, ada penyelewengan, penutupan informasi oleh seseorang atau lembaga.</p>
<p><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/09/liputan_mendalam.pdf">Download artikel peliputan mendalam (Investigative Reporting) selengkapnya (PDF)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/08/peliputan-mendalam-investigative-reporting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Berita di Media Cetak dan Media Elektronik</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/07/menulis-berita-di-media-cetak-dan-media-elektronik/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/07/menulis-berita-di-media-cetak-dan-media-elektronik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 07:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4105</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Daru Priyambodo, Redaktur Pelaksana Tempo News Room *

Back to Basic – Apa Itu Berita? Bagaimana Membuatnya?
Apa yang dimaksud sebagai berita? Apakah semua informasi adalah berita? Secara sederhana, semua informasi bisa disebut sebagai berita. Ada juga yang menyatakan bahwa “apa pun yang belum kita ketahui adalah berita”.
Anekdot klasik menggambarkan bahwa “anjing menggigit orang adalah berita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Daru Priyambodo, Redaktur Pelaksana <em>Tempo News Room *<br />
</em></p>
<p><strong>Back to Basic – Apa Itu Berita? Bagaimana Membuatnya?</strong></p>
<p>Apa yang dimaksud sebagai berita? Apakah semua informasi adalah berita? Secara sederhana, semua informasi bisa disebut sebagai berita. Ada juga yang menyatakan bahwa “apa pun yang belum kita ketahui adalah berita”.</p>
<p>Anekdot klasik menggambarkan bahwa “anjing menggigit orang adalah berita, tapi orang menggigit anjing baru berita”. Definisi ini agak berlebihan, namun mengandung unsur pokok yang memang harus dipenuhi oleh sebuah berita: Sesuatu yang eksklusif, yang jarang diketahui orang.</p>
<p>Tapi itu semua adalah definisi yang terlalu sederhana, sangat awam, dan tidak memenuhi kaidah jurnalistik. Dalam dunia jurnalistik, informasi terbaru hanya “salah satu unsur”. Ada berbagai unsur lain yang harus dipenuhi sebelum sebuah informasi layak disebut sebagai berita.</p>
<p>Seorang wartawan setidaknya mengetahui bahwa sebuah berita harus mengandung beberapa elemen penting.</p>
<p><strong>Elemen Berita</strong></p>
<ol>
<li><strong>Magnitude</strong>: Kuat tidaknya sebuah berita.<br />
<em>Contoh: Satu pasien rumah sakit yang meninggal akibat flu burung lebih menggemparkan ketimbang tiga orang yang meninggal pada saat yang sama akibat kecelakaan tenggelamnya sebuah ferry.</em></li>
<li><strong>Timeliness</strong>: Berita harus aktual.<br />
Masyarakat butuh informasi terbaru. Apakah Anda mau disuguhi berita yang terjadi dua hari lalu, sementara berita itu sudah disiarkan TV bertubi-tubi?<br />
<em> Catatan: Tulisan berbentuk feature (soft news) tidak terlalu terikat pada unsur aktualitas</em></li>
<li> <strong>Proximity</strong>: Kedekatan.<br />
Masyarakat akan tertarik untuk membaca sesuatu yang secara emosional, ekonomis, secara kultural, atau geografis dekat dengan mereka.<br />
<em>Contoh: Rencana Bulog membuka kran impor beras sebanyak 250 ribu ton akan lebih banyak menarik perhatian pembaca dibanding isu mengenai pembukaan kran impor produk elektronik dari Cina. Mengapa? Karena beras langsung menyangkut hajat hidup orang banyak.<br />
</em>Berita itu akan membawa dua implikasi yang sama kuatnya, yaitu:<br />
Persepsi Positif &#8211;&gt;  Harga beras tidak akan naik karena stock mencukupi, konsumen diuntungkan<br />
Persepsi Negatif &#8211;&gt; Harga gabah akan anjlok karena gempuran beras impor, petani pun dirugikan.</li>
<li> <strong>Tokoh</strong>: Ketokohan seseorang akan mengangkat nilai berita.<br />
<em>Name makes news. Ucapan seorang presiden akan lebih penting dibanding ucapan seorang rakyat biasa. Ucapan seorang menteri yang meramalkan harga BBM akan naik lebih dari 50 persen akan lebih berdampak dibanding ucapan banyak pengamat ekonomi yang menyatakan kenaikan BBM yang realistis adalah sekitar 20-30 persen.</em><em><br />
Tapi harap berhati-hati. Tidak selalu ucapan seorang yang memiliki nama besar lebih penting dibanding ucapan orang biasa.</em></li>
</ol>
<p><a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/09/Menulis-Berita-di-Media-Cetak-dan-Media-Elektronik.pdf">Download Artikel Selengkapnya (PDF)</a></p>
<p><strong>* Daru Priyambodo</strong> adalah Redaktur Pelaksana <em>Tempo News Room</em>, Jakarta. Memperdalam pendidikan jurnalistik di Thomson Foundation, Cardiff, United Kingdom tahun 1995, pernah menjadi pengajar di FISIP Universitas Airlangga dan Redaktur Pelaksana di Harian Umum <em>Republika</em> sebelum bergabung ke <em>Tempo </em>pada Februari 2001.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/07/menulis-berita-di-media-cetak-dan-media-elektronik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Opini, Menulis dengan Hati</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/menulis-opini-menulis-dengan-hati/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/menulis-opini-menulis-dengan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 08:20:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4086</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : L.R. Baskoro, Redaktur Utama Majalah Berita Mingguan TEMPO
MENULIS  opini berarti menyebar luaskan gagasan. Dengan menulis opini, maka seseorang berarti mentransfer ide dan gagasan ke ruang publik. Ia masuk ke ranah publik,  berusaha mempengaruhi publik, dengan tujuan akhir: gagasannya diterima atau juga diperdebatkan.
Karena itulah, menulis opini sesungguhnya mengasah otak, menajamkan pikiran, menantang munculnya ide-ide [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : L.R. Baskoro, Redaktur Utama Majalah Berita Mingguan TEMPO</strong></p>
<p>MENULIS  opini berarti menyebar luaskan gagasan. Dengan menulis opini, maka seseorang berarti mentransfer ide dan gagasan ke ruang publik. Ia masuk ke ranah publik,  berusaha mempengaruhi publik, dengan tujuan akhir: gagasannya diterima atau juga diperdebatkan.</p>
<p>Karena itulah, menulis opini sesungguhnya mengasah otak, menajamkan pikiran, menantang munculnya ide-ide baru, juga menantang pendapat orang dengan argumentasi yang siap untuk diperdebatkan. Menulis opini berarti memberikan wawasan dan pengetahuan untuk orang lain. Karena itulah, kegiatan menulis opini mestinya kegiatan yang dilakukan dengan hati. Dengan kesukacitaan, kegembiraan membagi gagasan dan kecintaan menyumbangkan ilmu dan pengetahuan.</p>
<p>Menulis opini adalah kegiatan yang menyenangkan. Siapa pun sesungguhnya bisa dan mampu untuk menulis opini.  Setiap orang yang memiliki  pengetahuan, mampu menulis,  sesungguhnya ia bisa menulis opini.  Dengan opini, tidak saja gagasan itu bisa menyebar, tapi juga,antara lain, membuat orang dikenal, juga mendapat honorarium.</p>
<p>Di Indonesia, hampir semua halaman surat kabar menyediakan rubrik opini. Dan hampir semuanya juga menyediankan honorarium untuk opini yang dimuat.  Opini-opini ini pun beraneka ragam. Bisa soal masalah sosial, politik, agama,  pertanian, perkebunan, pertambangan, hukum, dan lain sebagainya. Penulis dengan latar belakang bidang yang dikuasainya, akan mendapat tempat khusus di media massa jika ia menulis opini tentang bidang yang dikuasainya tersebut.</p>
<p>Bahkan, kadang media secara khusus meminta orang tersebut untuk menulis topik-topik tertentu untuk hari-hari tertentu pula. Karena itulah, misalnya, kita mengenal nama Satjipto Raharjo untuk bidang hukum dan ketertiban masyarakat, nama Ignas Kleden untuk bidang sosial, nama  Mulya Lubis untuk bidang hukum atau nama HS. Dillon untuk bidang pertanian.</p>
<p>Tentu saja mereka ini tidak langsung menjadi penulis opini.Mereka juga belajar, melalui banyak tahap. Tetapi, yang jelas mereka memiliki kompetensi yang membuat masyarakat  mengakui,  mereka memang layak untuk menulis soal atau masalah yang mereka tulis tersebut.<br />
<strong><br />
Antara Opini dan  Kolom<br />
</strong><br />
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustakan, Opini disebutkan sebagai ”pendapat; ”pikiran,” atau ”pendirian,”</p>
<p>Opini memang bisa diartikan sebagai pandangan seseorang tentang suatu masalah. Tidak sekadar pendapat, tetapi pendapat ilmiah. Pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan dengan berdasar dalil-dalil ilmiah yang disajikan dalam  bahasa yang lebih  popular. Karena itulah, untuk menulis opini juga dibutuhkan riset. Riset merupakan penguat dari argumentasi penulis untuk menekankan gagasannya. Opini inilah yang ditulis dan dituangkan dalam bentuk ”artikel.”</p>
<p>Adapun kolom adalah opini yang ”lebih cair” dalam gaya bahasanya. Penulis kolom biasanya tidak saja mereka yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang yang ditulisnya, tapi juga memiliki style –gaya-. Itu sebabnya disebut ”kolomnis”<br />
<strong><br />
Bagaimana Menjadi Penulis Opini:<br />
</strong>Dengan melihat rangkaian di atas, maka di sini untuk menulis opini dibutuhkan:<br />
1.Pengetahuan akan bidang/masalah tertentu<br />
2.Ide dan Gagasan<br />
3.Argumentasi gagasan<br />
4.Teknik Penulisan Opini<br />
5. Pengetahuan bahasa<br />
6. Pengetahuan Tentang Media Massa.</p>
<p>Mari kita uraikan satu persatu:<br />
<strong>1.    Pengetahuan Bidang/Masalah Tertentu.<br />
</strong>Penulis opini memiliki otoritas akan bidang yang memang layak bagi dia untuk diketengahkan kepada masyarakat. Ini bekal utama seorang penulis opini. Jika ia ahli pertanian, tentu masyarakat akan percaya akan seluk beluk tanaman yang ditulis daripada yang menulis seorang sarjana hukum.<br />
Pengetahuan bidang tertentu ini sangat penting, juga terutama untuk ”legitimasi” diri seorang penulis di depan publik.<br />
<strong><br />
2.    Ide dan Gagasan<br />
</strong>Ide merupakan barang termahal yang dimiliki penulis  -apa pun dan siapa penulis itu. Ide bisa tumbuh dari mana pun. Penulis yang terlatih tidak pernah kehabisan ide untuk menulis opini. Karena ide bisa muncul di mana pun, maka seorang penulis biasanya langsung menulis ide-ide yang didapatnya  begitu ide itu muncul. Ide itulah yang kemudian dikembangkannya begitu ia  memiliki waktu untuk menulis. Misalnya, di sini, seorang penulis membaca media tentang tinggi harga karet. Penulis opini kemudian mendapat ide, membandingkan tingginya harga karet itu dengan kenyataan sepuluh tahun terakhir dengan dengan menganalisa apa penyebab naik –turunnya harga tersebut.<br />
<strong><br />
3.    Argumentasi Gagasan<br />
</strong>Argumentasi ini sesungguhnya pasti dimiliki seseorang jika orang itu memang menulis bidangnya. Ini memang berkaitan dengan nomor 1 (pengetahuan bidang yang dimilikinya). Argumentasi penting karena di sinilah pembaca akan mengetahui ”kadar” keilmuan seorang penulis opini. Semakin kuat dan logis argumentasi yang ditampilkannya, maka akan semakin memperkuat gagasan yang ditulisnya.<br />
<strong><br />
4.    Teknik Penulisan Opini<br />
</strong>Penulisan  opini di media massa berbeda dengan penulisan di media ilmiah. Pembaca media massa sangat beragam. Karena itu, penulisan opini di media massa harus memakai bahasa yang komunikatif, tidak bertele-tele, dan ringkas. Kecenderungan pembaca kini adalah membaca tulisan yang tidak panjang, enak dibaca,  dan gampang dicerna.<br />
<strong><br />
5.    Pengetahuan Bahasa<br />
</strong>Kegagalan penulis opini dari kalangan ilmiah biasanya terletak pada penggunaan bahasa. Penulis opini dari latar belakang ilmiah harus belajar untuk memakai bahasa yang gampang dimengerti masyarakat, sehingga bahasa yang ditulisnya, efektif, efisien, dan mudah dimengerti.</p>
<p>Jika pun penulis opini ingin menampilkan istilah asing, ia  harus pula mencari padanan  dalam bahasa Indonesia. Penulis opini bahkan tidak usah khawatir untuk menampilkan idiom-idiom bahasa daerah jika dipandang menarik. Nasehat untuk ini: JANGAN SEKALI-KALI  MENGANGGAP PEMBACA SAMA TAHUNYA SEPERTI KITA.</p>
<p>Beberapa kata yang tidak efektif bisa dipangkas untuk menghasilkan tulisan yang padat. Kata-kata itu, misalnya, ”oleh,” ”adalah,”  ”itu,” ”tersebut” dll.<br />
<strong><br />
6.    Pengetahuan Media Massa<br />
</strong>Pengetahuan tentang Media Massa merupakan hal penting yang perlu diketahui penulis opini agar tulisannya bisa dimuat. Penulis opini, dengan mempelajari sebuah media massa, akan bisa melihat, media massa itu,misalnya, apakah memberi perhatian kepada masalah-masalah yang digeluti sang penulis opini itu atau tidak. Suratkabar Kompas, misalnya, cenderung untuk memberi tempat kepada opini dalam bidang apa pun. Demikian juga harian Suara Pembaruan. Dengan pengetahuan seperti ini, maka seorang penulis opini tahu, ke mana artikel yang dibuatnya itu akan dikirim.</p>
<p><strong>Bagaimana Supaya Opini Dimuat di Media Massa</strong></p>
<p><strong>A.    Ada peg/cantolan peristiwa<br />
</strong>Seperti berita, opini pun memerlukan peg –cantolah peristiwa. Tujuan peg ini adalah agar opini ini relevan dengan yang sedang terjadi atau dibicarakan masyarakat. Semakin ada peg-nya maka, kemungkinan opininya dimuat akan semakin besar. Peg ini bermacam-macam. Bisa peristiwa yang tidak diduga, atau juga peristiwa yang sudah direncanakan pasti terjadi. Misalnya, menyambut sepuluh tahun peristiwa swasembada beras, peringatan ulangtahun lembaga/peristiwa tertentu, dll.</p>
<p><strong>B.    Cari Angle Menarik<br />
</strong>Jika peg itu sudah didapat, maka penulis tinggal mencari angle/sudut pandang: dia akan menulis apa dan dari sudut pandang apa? Angle merupakan hal penting yang menajamkan opini penulis satu dengan penulis lain. Nasehat untuk ini: carilah angle yang paling berbeda, unik, dan mungkin orang tidak terpikirkan. Tentang harga tanaman karet yang melonjak itu, misalnya, seorang penulis opini, misalnya, bisa mengambil angle: ancaman bahaya apa yang harusnya diwasdapai petani dengan tanaman mereka yang sudah berumur sekian puluh tahun?</p>
<p><strong>C.    Eksplorasi gagasan dan argumentasi<br />
</strong>Inilah argumentasi yang harus dibangun dan dimiliki penulis untuk menguatkan opininya. Untuk membangun argumentasi ini, penulis opini bisa menyodorkan data atau contoh-contoh peristiwa. Contoh itu bisa dari dalam negeri atau luar negeri.</p>
<p><strong>D.    Tidak Menggurui<br />
</strong>Isi tulisan opini mesti dihindarkan sejauh mungkin dari kesan menggurui, juga mengesankan penulisnya ”menampilkan,” kepintarannya. Salah satu cara agar tulisajn opini tidak menggurui, antara lain, jangan terlalu banyak menampilkan kutipan atau sumber-sumber literatur. Lebih baik penulis menampilkan contoh yang muncul sehari-hari dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, syarat lainnya: baca ulang opini tersebut berkali-kali.</p>
<p><strong>Bisakah Saya Menulis Opini dan Dimuat di Koran?<br />
</strong>Bisa!</p>
<p>Tidak ada penulis opini yang langsung terkenal. Semua dari bawah. Salah satu cara belajar yang baik: membaca opini-opini dari penulis terkenal. Pelajari kalimat dan bagaimana sang penulis mengungkapkan buah pikirannya.</p>
<p>****</p>
<p><strong>(Materi ini pernah disampaikan dalam pelatihan ”Menulis Opini di Media” untuk para peneliti senior Pusat Peneliti Kelapa Sawit, Medan, 2008)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/menulis-opini-menulis-dengan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reportase dan Wawancara</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/reportase-dan-wawancara/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/reportase-dan-wawancara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 01:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase dan Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop Jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4081</guid>
		<description><![CDATA[File presentasi mengenai &#8220;Reportase dan Wawancara&#8221; yang disampaikan pada Workshop Jurnalistik Mahasiswa Se-Bandung Raya di Universitas Parahyangan, 1-2 Agustus 2009, ditulis oleh : Widiarsi Agustina, Kepala Biro Tempo Jawa Barat. Download file presentasi (PDF)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>File presentasi mengenai &#8220;Reportase dan Wawancara&#8221; yang disampaikan pada Workshop Jurnalistik Mahasiswa Se-Bandung Raya di Universitas Parahyangan, 1-2 Agustus 2009, ditulis oleh : Widiarsi Agustina, Kepala Biro Tempo Jawa Barat. <a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/08/liputan_investigasi1.pdf">Download file presentasi (PDF)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/09/01/reportase-dan-wawancara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan Investigasi</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/31/liputan-investigasi/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/31/liputan-investigasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 01:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4075</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah materi pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut Nasional UKPM Kronika STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, 14 Agustus 2009, ditulis oleh Bagja Hidayat, Wartawan majalah Tempo. Berikut ini adalah sedikit kutipan tulisannya:  &#8220;Seorang wartawan investigasi akan terus meragukan temuantemuannya, mengolah kembali informasi dan cerita yang ia terima, memverifikasinya, lalu mengonfirmasikannya kepada banyak sumber. Sikap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini adalah materi pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut Nasional UKPM Kronika STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, 14 Agustus 2009, ditulis oleh Bagja Hidayat, Wartawan majalah Tempo. Berikut ini adalah sedikit kutipan tulisannya:  <em>&#8220;Seorang wartawan investigasi akan terus meragukan temuantemuannya, mengolah kembali informasi dan cerita yang ia terima, memverifikasinya, lalu mengonfirmasikannya kepada banyak sumber. Sikap skeptis sebetulnya tak hanya harus dimiliki wartawan investigasi. Setiap wartawan harus memiliki sikap ini. Sebab skeptis akan menyelamatkan wartawan terjerumus ke dalam sikap partisan, tak seimbang, memihak.&#8221; </em> <a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/08/liputan_investigasi.pdf">Download artikel selengkapnya (PDF)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/31/liputan-investigasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengawali Sebuah Tulisan?</title>
		<link>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/07/bagaimana-mengawali-sebuah-tulisan/</link>
		<comments>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/07/bagaimana-mengawali-sebuah-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 21:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tempo-institute.org/?p=4012</guid>
		<description><![CDATA[Materi presentasi &#8220;Bagaimana Mengawali Sebuah Tulisan&#8221; ini ditulis oleh  Mardiyah Chamim,  Direktur Eksekutif Tempo Institute. Materi ini disampaikan pada Diklat Jurnalistik Dasar untuk Mahasiswa se-Bandung Raya, 1-2 Agustus 2009, di Universitas Parahyangan, Bandung.  Download PDF (1,3 MB)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Materi presentasi &#8220;Bagaimana Mengawali Sebuah Tulisan&#8221; ini ditulis oleh  Mardiyah Chamim,  Direktur Eksekutif <a href="../" target="_blank">Tempo Institute</a>. Materi ini disampaikan pada Diklat Jurnalistik Dasar untuk Mahasiswa se-Bandung Raya, 1-2 Agustus 2009, di Universitas Parahyangan, Bandung.  <a href="http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/08/bagaimana-mengawali-sebuah-tulisan.pdf">Download PDF</a> (1,3 MB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tempo-institute.org/index.php/2009/08/07/bagaimana-mengawali-sebuah-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
